Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Kepada Langit

Kepada langit ku torehkan asa Biarkan surya dengan senyumnya Bersama jingga sibakkan peluk halimun Erat menyongsong siang Kepada langit ku bisikkan pinta Usah hirau pada mereka Yang simpan sedu juga keluh tertahan Nyanyian kehilangan Kepada langit ku semaikan harap Biaskan sinar, hangatkan buana Agar sendu tak perlu menderu Warnai dini hari, bersama embun Jakal, 26/3/2012

Nyanyi Bende

Sebagai Guru Kelas yang mengajar klas IV SD, Ranti dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran. Tak terkecuali Seni Musik, pelajaran yang tak terlalu disukainya. Hanya mata pelajaran Olah Raga saja yang diampu khusus oleh guru olah raga. Siang itu pas pelajaran Seni Musik, Ranti mengharuskan murid-muridnya menyanyi di depan kelas. Kali ini ia memilih tema lagu-lagu perjuangan. Seperti biasa, suasana kelas akan berubah riuh rendah, apalagi bila ada salah seorang muridnya yang lupa atau bahkan tak bisa menyanyi sama sekali. Tiba giliran Atmo, seorang anak laki-laki yang super aktif di kelas. Entah apa alasannya, kali ini dia malu-malu menyanyi di depan kelas. “Ayo Atmo, mau menyanyikan lagu apa?“ lembut Ranti menyapa anak itu, sambil mengelus kepalanya. “Mau menyanyi bende ....“ ragu-ragu Atmo menjawab, dengan mimik muka takut-takut bercampur khawatir. Merasa tak pernah mengajarkan lagu perjuangan dengan judul yang asing, Ranti terheran-heran. Seumur-umur baru sekali ...

Di Ujung Senja

Ujung senja masih kelabu, gelap bertirai kabut Berkutat dengan serpih, kuhela keranjang isak Sesiangan penuh kan beban Kidung nan sayup, ditingkah petik kecapi Iringi rintih hati Cericit camar songsong senja nan jingga Berbalut mega kelabu Tak sebaitpun pernah menguar Sekedar ucap penghiburan Agar tak torehkan panjangnya luka, bertabur leleh pilu Hingga kelabu kaburkan jingga Jakal, 26/3/2012

Sepotong Ilusi Tersisa

Bersandar di tepian, kokohnya karang mulai melapuk Runtuh satu satu Ketegaran itu laksana ilusi, rapuh bagai hati tercabik Kecipak ombak, kejaran buih menggapai pantai Basahkan kaki menyangga letih ragawi Menghela asa perlahan redup Lenguh tertiup angin malam Sendiri Tak hendak sisihkan keluh Saat bayangmu enggan ku rengkuh Jakal, 26/3/2012

Symphoni Ilalang

cericit kecil, membilang bait bait sunyi dangau penghujung huma, terduduk ku gapai letih ragawi belai bayu sibak peluk halimun dini hari hamparkan serenada nyanyi sunyi kemersik ilalang bagai symphoni saat di sini menggapai pengobat hati Jakal 26/3/2012

Pesta di Kota Tua 2

diantara blangkon kuluk dan gelung tekuk juga hiruk pikuk, rombongan demi rombongan susuri jalanan, ke jantung kota    abai pada bagaskara panasnya memanggang di ubun ubun     tengok setiap wajah toleh setiap kerumunan sudut kota pun hampir terlampaui tak ku jumpa sesungging senyummu   ah, rinduku keriuhan ini tak hangatkan hati Jakal, 26/3/2012

Pesta di Kota Tua 1

sudut kota genit bersolek, dandan sepagian   umbul rontek penjor barisan untai melati hingar bingar riuh rendah juga celoteh tak berjuntrung menggema di udara kota    ah, rinduku tak inginkah menjadi noktah bagian keriaan ini ? Jakal 26/3/2012