Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Erina Mencari Jejak Angin part 7

Tak sia-sia Rahma meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan berskala nasional saat anak-anaknya mulai masuk sekolah, dulu. Sebuah pilihan yang sangat sulit, apalagi gaji yang ia terima setiap bulannya lumayan besar. Akan tetapi ia memang harus memilih, bukan? Tetap bekerja mengejar karir dan salary atau mundur dan memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Jujur, saat itu Rahma tak bisa menentukan pilihan. Posisi mapan yang ia dapatkan setelah bersusah payah sekian tahun di perusahaan itu harus ditinggalkan begitu saja demi anak-anak. Rahma bingung sekali. Ternyata tak mudah untuk mengambil keputusan , sementara sekolah kedua anaknya tidak bisa menunggu. Ia terjebak dalam kebimbangan. “Aku harus gimana, Abi? Mana yang harus kupilih. Dua-duanya berat untukku?” Rahma memandangi   wajah lelakinya dengan penuh harap. Jujur, ia ingain mendengar apa pendapat suaminya tentang hal ini. Rahma tak ingin salah langkah dalam menetapkan pilihan. “Aku tak pernah memaksamu untuk...

Erina Mencari Jejak Angin part 6

Rahma turun ke halaman, menyalami rombongan tetangga yang tengah melintas. Sebuah kebiasaan yang hampir ditinggalkan oleh mereka yang menyebut dirinya modern. Kami yang tinggal di kampung masih meneruskan kebiasaan ini setiap kali ada tetangga yang lewat di depan rumah. Saling menyapa, bertanya kabar atau tujuan dan bincang remeh temeh lainnya. “Memangnya Erina sudah mau menikah, yaa, Bu?” Bu Pradopo mengulang pertanyaannya kembali. “Sudah waktunya Bu Mia momong cucu, lho. Lihat, ibu-ibu yang sepantaran sudah punya cucu semua. Hanya Bu Mia yang belum,” sambungnya setengah berbisik. “Belum, kok, Bu. Masih mau dolan, katanya,” jawab Rahma. Sekilas ia melirik ke arah Erina yang duduk membeku di kursinya. “Aduuh, kok malah ngobrol di sini. Hayuu, Bu. Saya permisi dulu. Sudah sore, takutnya mengganggu. Tuuh, jahitannya nanti malah nggak rampung ….” Bu Pradoppo pamit sambil menjabat tangan Rahma. “Nggak, kok. Saya malah senang. Apalagi kalau berkenan singgah, saya tambah...

Erina Mencari Jejak Angin part 5

Anak gadisnya, yang dia jaga dan sayangi sepenuh jiwa, harus terluka hatinya karena perpisahan. Pacarnya kedapatan selingkuh –pacaran lagi dengan gadis lain justru di saat hubungan mereka telah berjalan bertahun-tahun. Gadis itu dikenal saat di lokasi Kuliah Kerja Nyata. Sedihnya, cinta yang terjalin itu bukanlah cinta biasa. Asmara penuh kembang –demikian Erina menyebutnya dengan kesedihan yang mendalam. “Ia tergoda perempuan lain, Ma,” sedunya saat itu. Sudah beberapa minggu Rio tidak berkunjung ke rumah seperti biasanya. Bukankah Kuliah Kerja Nyata yang dijalaninya sudah selesai bulan lalu? Pacarnya berpindah ke lain hati, karena upaya dan usaha metafisika yang tak masuk akal sehat. Guna-guna? Yaah, seperti itulah. Menurut beberapa kawan dekatnya, Rio berpaling setelah berkenalan dengan Yessi, anak gadis seorang paranormal yang sering dimintai tolong mengusir roh atau hantu yang bersemayam di tubuh orang kesurupan. Sikap Rio akan berubah linglung kseperti kerb...

Erina Mencari Jejak Angin par 4

‘ Bersama ini kami beritahukan bahwa Saudara Erina beserta seluruh anggota divisi telah berhasil memenuhi target produksi seperti yang telah ditetapkan oleh perusahaan periode tahun gasal.’ Rahma menoleh ke arah Erina, yang mengangguk mengiyakan. ‘Oleh karena itu, yang bersangkutan berhak mendapatkan bonus pencapaian yang sudah dijanjikan.   Saudara Erina akan mengikuti weekly tour ke Singapura selama empat hari tiga malam.’ Erina tersenyum melihat ibunya membelalakkan mata tak percaya pada apa yang dilihat. ‘Untuk memudahkan pengurusan administrasi, dimohon agar blangko yang ada dalam lampiran surat ini bisa segera diisi dan diserahkan ke Bagian Personalia.’ Rahma membaca deretan kalimat di kertas itu secepat ia bisa. Konsentrasi Rahma agak terganggu dengan jerit kegembiraan dan jingkrak kegirangan Erina. Ia mengelillingi ibunya sambil menyenandungkan sepotong lagu yang tidak jelas judulnya dan siapa yang menyanyikannya. Lebih lucu lagi, suaranya blero –sumbang-...

Erina Mencari Jejak Angin part 3

Setelah berpamitan, Abi menggandeng Rahma masuk ke mobil. Tak sampai duapuluh menit berkendara, kami sudah sampai di rumah lagi. Rahma mendapati Erina sedang duduk menggelosot di lantai, mukanya masam. “Heeh, anak gadis … nggak baik manyun sore-sore.” Abi sengaja menggoda anak gadisnya. Ia menowel pipi yang masih basah oleh keringat itu dengan gemas. “Kemana aja siih, kok dikunciin … keburu harus, nii.” Gerutunya. “Bukannya kau bawa kunci sendiri?” tanya Rahma keheranan. “Enggak. Tadi pagi terburu-buru berangkat,” jawab Erina. “Salah sendiri …,” jawab Abi sambil berlari menjauh. Tangan Erina sudah teracung, siap-siap mencubit ayahnya yang sejak tadi menggoda. ***** Gaun biru tosca yang dijahit Rahma sejak dua hari lalu belum selesai dikerjakan. Entah kenapa, kali ini ia sulit sekali berkonsentrasi. Biasanya perempuan itu mengerjakan jahitan gaun dalam sehari, tapi kali ini? Ada sesuatu yang membebani pikirannya akhir-akhir ini, tapi apa? “Ma...

Erina: Mencari Jejak Angin 2

Gara-gara itu pulalah, Abi jadi marah. “Sudah diberi tahu, jangan duduk di depan kipas angin,” gerutunya. Saat itu ia tengah mengganti bajunya yang basah oleh keringat lalu bersiap-siap mengantar Rahma ke tukang pijat langganan. Perempuan itu menurut saja saat digandeng menuju ke mobil. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, pandangan mata berputar-putar dan kaki terasa lemas sekali. Sambil menyeringai menahan sakit, Rahma duduk manis di sebelah Abi, suaminya. “Lain kali kalau masih mau menghidupkan kipas angin, hadapkan ke arah tembok saja. Anginnya tidak langsung menerpamu, hanya pantulan dari dinding,” kata lelaki itu. Pandangan matanya tetap mengarah ke depan. Lalu lintas sedang lumayan padat kala itu. Rahma mengangguk, sambil mengaduh. Rasanya seperti ada beribu jarum yang menusuk-nusuk tulang belikatnya. Apalagi sudah dua hari ia tak bisa menoleh. Kalau mau menengok ke belakang, ia harus memutar seluruh badan. Seandainya tetap memaksa, maka nyeri yang hebat akan te...

Erina: Mencari Jejak Angin 1

Rahma beranjak dari mesin jahit saat mendengar getaran hape dari ruang tengah. Sebuah pesan pendek nampak di layar. Dari Erina. Tak biasanya dia mengirim pesan seperti itu. ‘Pasti ada sesuatu yang penting,’ gumam Rahma. Tak sabar diraihnya hape dan membuka pesan. “Mama, aku punya kejutan.” Demikian isinya. Singkat saja. Tak ada kalimat penjelasan yang lain. Membuat Rahma penasaran. Aneh. Tak biasanya Erina berlaku seperti itu. Entah apa sebabnya. Kegelisahan yang selama ini membebani hati Rahma, semakin terasa menohok perasaan. Hatinya terbelah, beberapa kali pesan pendek yang dikirimnya   tak mendapat jawaban dengan jelas. Hanya acungan jempol yang nampak di layar pesan. Sampai sesore ini Erina belum juga pulang. Biasanya ia akan memberitahu bila harus mampir ke tempat lain dulu sepulang kerja. Entah, apa ia tak merasakan kekhawatiran ibunya bila ia pulang terlambat? Apalagi tadi ia mulai berteka-teki. ‘Kemana anak ini? Kok belum nampak juga batang hidungnya...

Padhat Saben

Padhat Saben •••• Dari celah pintu kamar ibu yang tak tertutup sempurna, Lenang mendengar suara isak yang samar. Seperti orang batuk yang disembunyikan dalam bekapan kedua tangan. Ibu menangis. Lagi. Lenang menghela napas, ragu-ragu antara menghindar atau tetap di tempatnya. Namun, akhirnya ia memilih mendorong pintu agar membuka lebih lebar. Ibu menoleh, wajahnya basah oleh sisa air mata yang belum selesai diusapnya. Ujung selendang tergantung di jemari tangannya. "Le, ada apa?" "Harusnya aku yang bertanya, Bu. Ada apa?" Dada ibu terlihat naik turun, seolah ada beban berat yang menimpanya. "Ayah, berulah lagi?" Pelan, kepala itu mengangguk. Membenarkan dugaan Lenang selama ini. "Dulu, ibu mengabaikan pesan eyang kakungmu, Le. Ayah pernah berkata, pria yang pernah selingkuh, suatu ketika akan tergoda untuk mengulanginya lagi. Bahkan berulang. Padhat saben mesthi ngono ...." Ada bom yang serasa meledak d...

Menjemput Lembayung

kau tinggalkan seonggok butiran rindu tergenggam di jemari tangan kiri dan kau biarkan tangan kananku melambai mengantarmu menjemput lembayung senja dan jingga senja temaram sriti-sriti berpacu dengan gelap menjangkau sarang desau angin sejukkan tiang-tiang beranda berdiri kaku rindukan senyummu ===&&&&&===

Esok Bukan Lagi Milik Kita

melihatimu melipat senja yang remang mengikatnya dengan semburat jingga meski hanya sisa penatkah tanya ini berhenti di ujung lidah kau habiskan jam-jam berlalu mengejar ekor senja yang terbenam di ujung horizon diantara derak roda kereta dan wajah-wajah lelah bersaput harap esok bukan lagi milik kau, juga aku karena langkah kita berlain arah ====%%%%%%%====

Rindu Usai di Kegelapan

malam tak pernah ijinkan gemintang mengelana arungi gelapnya tanpa berteman rembulan meski hanya seleret sinar megamega genit berarak tak relakan mata lelah ini terpejam istirahkan penat dan gundah suramnya temani menjelajah bayang-bayang entah rindu yang terserak tak pernah usai kukumpulkan menimbunnya di kegelapan seleret senyum purnama ===&&&&===