Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Tak seperti biasanya, studio Radio Rangkat FM hingar bingar pagi ini. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari terakhir, ada kesibukan yang sedikit luar biasa dibandingkan hari hari sebelumnya. Di sudut teras depan, ada mas Lala sedang asyik dengan gitar bolong pinjaman dari bang Relly. Di samping ruang siaran mas Hans sedang sibuk memencet tuts keyboard sambil menyimak partitur lagu dihadapannya. Kang Inin memboyong satu set peralatan drum dari rumah kang Edy Priyatna, yang belum sembuh benar. Om Garong tak mau ketinggalan. Sambil memegang mic , sibuk menyanyi sambil menggoyangkan badannya. Lucu, karena iramanya tak sesuai dengan goyangannya. Untung bunda Enggar tak nampak di studio. Beberapa hari ini siaran hanya berlangsung dari playlist yang dipasang untuk beberapa hari, sementara siaran live ditiadakan. Itulah sebabnya, semua sibuk berlatih keras. Entah, mau konser dimana. ##### Tanggal 6 Maret 2012 akhirnya dating juga. Sepanjang hari itu seluruh warga desa Ran...

Penghujung Malam

Malam merambat menuju dini, dalam gemeletuk Gigilan perih ujung harap yang tercampak ……… Kutunggu peluk lelahku, kunanti dekap sepiku Kan temani duka citaku sampai pagi ……… tak teraih, meski sejauh tangan menggapai kar’na adamu, hanya diujung mayaku mengelana sepanjang sulur ilusiku menelusuri lembaran kertas kertas putih berhumbalang dalam hembusan sisa angin malam ……… Mestikah abai pada sunyi tepian hati Yang merana menuai derai, tersamarkan rinai Langit tlah tampakkan seringai ……. Mari menghitung mimpi Menina bobokkan segala perih dan kelu diri Menjelmakan menjadi sepotong elegi tuk esok hari Menyongsong fajar, bersemburat jingga berselendang pelangi ---000--- Jakal, 27 april 2012

Serial Rangkat: Senja Memerah Saat Pos Ronda Berubah Wajah

Sore itu pos ronda Rangkat hiruk pikuk, tak seperti hari biasanya yang sepi. Sesekali hanya Dorma yang rajin mengunjungi. Terkadang bunda Enggar datang, membawa sapu lidi dan kain lap, sekedar membersihkan debu yang selalu hinggap di sudut sudutnya yang asri. Mas Ibay sibuk membawa sehelai kertas, mencoret coret sesuatu. Mukanya ditekuk, serius sekali. Entah sedang memikirkan apa, tak lama kemudian disodorkannya kertas itu ke bunda Enggar. senja memerah lembayung mengintip sudut hati perawan saat kepak kelelawar mengganti rama rama surya muram melangkah menuju horizon kau dimana...??? Rupanya mereka sedang meRANGkai KATa, kegiatan yang selama ini mampu membuat kebersamaan di antara mereka semakin erat. Tak ada lagi sekat antara yang tua dengan yang muda, antara warga lama dengan pendatang, semua luruh menyatu. kusibak rerumputan kuterjang semak belukar... serak suaraku titis peluhku... merabai semesta selami benakku... tak juga kutemukan... kau dimana...??? ...

Penjara Pintu Biru

Aku berdiri di balik jendela kamarku yang menghadap arah matahari terbit. Sesekali masih kulihat semburat jingga ke kuning keemasan rona mentari yang menyembul di sela gerombolan awan kelabu berarak membentuk mendung pekat. Angin yang berhembus menerbangkan dedaunan menguning luruh menutup hamparan tanah basah. Aku menghela nafas. Inikah arti sebuah penantian itu ? Penantian yang belum tampak kemana ujungnya bermuara ? …….. Aku menamainya Penjara Pintu Biru. Di sanalah kutemui bayangmu, dalam lembutnya dekapan dan senyum hangat mentari. diantara gemulai lambai ilalang yang menari bersama desau angin menyisir dedaunan ujung ranting terangguk, menyapu tepian pematang ditingkah tawa bocah, semarak susuri tanggul sungai kecil gemericik air, serenade indah nyanyian jiwa tak terkotori nafsu syak wasangka dan rindu dendam dalam dekap rayu memagut senja saat susuri kelok lubuk dan lembah ngarai berhiaskan butir kabut menggumpal menapaki dinginnya malam dan...

Serial Rangkat: {FF] Kalah Taruhan

“ maaass….” Mahar merajuk. Mulutnya manyun, wajahnya muram. “ apaan sii …” mas Hans menoleh. Tangannya berhenti di udara. “ ayoooo, buruaaannn….” Mahar menarik tangan mas Hans. Bang Relly, jeng Dwee, dinda Icha tersenyum melihat mereka berdua. “ ehm ehm…masih siang gitu lhoooo …..” serentak mereka menggoda pasangan ini, membuat keduanya tersipu sipu. Pojok Baca Rangkat sudah hampir selesai dikerjakan. Rak buku cantik, buku bacaan melimpah (meski bekas dan layak pakai) karpet, meja kantor di sudut….. Bund Engg muncul membawa baki penuh minuman dan camilan. Seperti biasa,camilan khas Jogja. Kali ini ada geplak,yangko, kipo, ukel, cemplon dan kue ku. “ hayuuukk, istirahat dulu. Kerjaan kok dituruti. Ga bakalan selesai nanti….” Tawarnya ramah. Tangannya sibuk membagi bagikan gelas minuman. Ada beras kencur yang segar, juga kunir asam yang cocok untuk para gadis. Mas Hans dan Mahar sudah menghilang entah kemana. ##### Mas Ibay masuk tergopoh gopoh sambil mengaduh k...

Setengah Mati Merindu [Penantian di Candi Plaosan]

Tyas mematikan ponselnya. Dipandanginya gerbang masuk ke candi Plaosan sekali lagi, barangkali yang ditunggunya sejak tadi akan muncul di sana. Tetapi tak ada seorangpun yang menjumpainya. Dia mendesah. Lalu dengan lesu, diseretnya langkah kaki meninggalkan halaman candi. Kembali hatinya diliputi kegundahan yang luar biasa. “ Sampai kapan penantian ini akan berakhir ? “  desisnya lirih. Dipandanginya langit yang mulai semburat jingga. Hari ini hujan tak turun, senja menjadi lebih indah dengan  candik ala  yang merona. Sesekali melintas burung sriti yang bergegas menuju sarangnya, ditingkah cericit kelelawar yang memburu nyamuk. Debu berhamburan di jalanan, tetapi semua tak dihiraukannya. mungkin kau bukanlah jodohku bukan takdirku terus terang, aku merindukanmu setengah mati merindu …… [ Setengah Mati Merindu – Judika ] Tyas bersenandung mengikuti syair lagu Judika…. Sesekali ia tersenyum pada para petani yang melintas atau berpapasan dengannya. Hamp...

Membelai Senja di Kraton Boko [Edisi Ngidam]

Miranti memandangi tetes hujan dari balik jendela kamarnya pagi itu. Wajahnya muram, pelupuk matanya bengkak sisa tangis semalaman. Hatinya sakit, perih tercabik cabik oleh kemarahan Wahyu. Sebenarnya keinginannya sederhana. Miranti ingin bisa menikmati sunrise dan sunset di perbukitan kawasan Kraton Boko yang legendaris. Mudah bukan ?? Masalahnya, ini minggu yang sibuk bagi Wahyu. Sebagai auditor, dia dituntut menyelesaikan audit proyek pembangunan jembatan penghubung di kabupaten yang ditengarai sarat praktek korupsi. Pak Baroto sudah mengultimatum, agar menyerahkan hasilnya besok hari Jum’at. Duuh, bagaimana ini ? Wahyu betul betul bingung. ………… Wahyu teringat saat pertama kali mereka jadian. Saat itu ujian semester baru saja usai. Wahyu mengajak Miranti bertamasya ke kompleks Kraton Boko yang eksotik. Panas terik siang itu tak mereka hiraukan saat mendaki anak tangga yang jumlahnya ratusan. Peluh Miranti bercucuran, mukanya merona merah, beberapa helai rambutnya menem...

Serial Rangkat: Saat Desa Berselimut Sunyi

Selepas adzan dhuhur berkumandang dari masjid desa Rangkat, mas Pujangga Rangkat melangkahkan kakinya menyusuri sudut desa yang lengang. Hari ini matahari tak bersahabat, cerah senyumnya menghilang digantikan cendawan mendung bagaikan payung, pekat kehitaman. Sesekali gemuruh guntur bersahutan, tanda hujan akan segera tiba. Sambil berjalan Pujangga Rangkat sibuk memainkan hapenya. Dipencetnya tombol tombol yang berderet sambil komat kamit. Serius sekali rupanya. secercah rasa dituang oleh senyuman... mengharap sambut bagai teman hidup.. bukan teman tidur.... ehm 8) layar di hape memunculkan sebaris puisi indah, yang entah dikirimkannya kepada siapa. Jeng Asih Sekdes Rangkat yang berpapasan pun sampai terkaget kaget melihat mas Pujangga Rangkat . Tidak biasanya ia bersikap begitu….  Gumam jeng Asih. Keningnya berkerut, sambil geleng geleng kepala. Di kejauhan nampak jeng Made Kusumadewi berjalan tergesa gesa. Jas putih yang dikenakannya berkibar kibar ditiup angin...

Jejak Sang Pengelana

Bayu mengelus lembut daun daun Yang terangguk laksana tarian maestro Diantara kecipak kaki bangau terdiam Menanti mangsa, tenggelam di air tenang Tepian pematang, saat siang …… Surya membakar tengah hari Sirnakan tetes sisa embun menitik Diantara pokok ranting hampir mengering Menemani hijaunya lembah, dalam pesta fotosintesa …… Pelan kau susuri lekukan lembah Laksana jelajah kaki pengelana Ditingkah degup, debur irama jantung Dalam serenada gendering, bertalu ……. Lereng ngaraipun berubah sunyi Hanya kecipak iringi langkahmu Menjangkau pucuk Cumbui selendang pelangi Saat cendawan mendung Basahkan tepian hingga lubuk ---&&&--- Jakal, 24 April 2012

Puisi Ini Tentang Kau

Puisi ini tentang kau yang mendaki Ceruk dan cekungan alur lahar pegunungan Menelusur jajaran pinus berlenggok Menabur guguran daun jarum berserak ……….. Puisi ini tentang kau yang kecupi Liatnya tebing berpasir bertabur kerikil Diantara belaian ilalang meranggas Tinggalkan bekas kecoklatan beraroma panasnya mentari ……. Puisi ini tentang kau yang cumbui Lubuk berair tenang dan kecipak ikan Diantara kelebatan lumut menghijau berayun Bersenandung elegi senja ……. Dan puisi ini masih tentang kau Terduduk letih bak seonggok daging Berlumurkan tetes air serupa embun Mengaliri lembah dan ceruk Dalam pagutan senyum penuh warna Jakal, 24 April 2012

Puisi Ini Tentang Aku

puisi ini tentang aku yang bersendiri menghitung bintang sementara matahari meraja dengan pongahnya menghalau debu, berhamburan sepanjang kenangan    puisi ini tentang aku yang mencintai ketidakhadiranmu menjelang usia senja sementara jarum waktu terus bergulir tinggalkan masa lalu menenggelamkan bimbang, berhumbalang sepanjang keraguan puisi ini tentang aku yang berhenti menggambar di atas alun sementara bibir pantai mencumbu riak ombak berkejaran, berdebur menghantam ketegaran karang dan puisi ini masih tentang aku yang tak pahami bergantinya waktu karena tarian ilalang tlah menyita pandang mataku dari jajaran kelu dan rentetan bibir terkatup diam tanpa suara, apalagi asa Jakal 24 April 2012

Serial Rangkat: [Pray for Pak RW]: Jangan Biarkan Pengharapan Ini Pergi

Sumringahmu… Sapa hangatmu…. Salam semangatmu…. Menyapa pagiku, rentang siangku, dan ujung malamku …… Sepi menggigit, dingin memeluk kabut Sirna dalam cerah wajah teduhmu, kebapakan Kini terbaring diam, dalam pelukan ranjang berpenghalang Bersama seliweran selang selang, dan jarum tajam tak berhati …… Ayah…. Jemari bunda Yanti mengelusmu, penuh kasih Senandung doa dan pengharapan terucap buatmu, dari kami …… Biarkan hanya langit yang muram Biarkan hanya hujan yang menangis Biarkan hanya kembang dan bunga yang merunduk Jangan biarkan pengharapan ini pergi ya ayah…. Sayang kami…. Cinta kami…. Kangen kami…. Semua tak lagi berwarna tanpamu ---000--- Jakal 23 april 2012

Serial Rangkat: [Pray for Pak RW]: Mendung di Desa Rangkat

Kukayuh biduk lapuk ku, susuri tepian Dayung yang somplah bagai tak bertenaga, lunglai Berpayung cendawan mendung, kelabu pekat Tirai tangis langit sempurnakan isakku, sembunyikan derai …… Gladiol runduk melayu, melati tak tegak putik memutihnya Kembang kembangpun merunduk, simpan isak dalam pelupuk Senyum tak lagi ada, tawa tlah menguar bersama canda Muram di wajah warga, kelu tak berkata kata …… Ayah terbaring lesu, pucat bagai kertas Bertemankan jarum dan selang bening,juga berwarna Berbantalkan sayang dan cinta bunda , duh, Tak sepatahpun terucap, betapa sedihnya ….. Bunda, kubisikkan namamu…. Bunda Yanti Mari rebahlah disini, di pelukan kami penduduk desa Kan kujaga semua semangat dan salam ayahnda Smoga segra sirna segala coba, duka dan airmata …… Bangunlah ayah, lihatlah Betapa kosongnya hati kami tanpa sapamu Betapa muramnya jiwa kami tanpa senyummu Betapa tak berwarnanya wajah kami tanpamu ……. Mari tangkupkan tangan, memohon padaNya ---...

Serial Rangkat: Rindu di Siaran Perdana

Setelah mengganti urutan lagu di playlist Radio Rangkat yang diputar semalaman, pagi ini aku sudah berkutat dengan kabel dan headset di studio. Desa masih lumayan sepi, maklum baru pukul enam. Sebagian warga masih memeluk mimpi yang menemani menghabiskan malam dalam balutan rinai hujan. Kutengok kios kripik milik Jeng Sekar, belum ada tanda tanda kehidupan di sana. Apalagi warung bakso Om Garong, bahkan belum berdenyut sama sekali. Kios lain yang terletak di kiri kanannya juga belum ada kegiatan sama sekali. “ bundaa…” seraut wajah manis tiba tiba nongol di balik pintu studio. Senyumnya mengembang saat mengulurkan sekantung kripik apel padaku. “ katanya bunda pengin oleh oleh. Berhubung kripik jengkol rasa sambel ijonya sudah habis…. Ini dulu yaaa…” bujuknya. “ aduuh, diajeng.. kemarin itu hanya bercanda lhooo… tapi terimakasih banyak yaa. Mudah mudahan Allah membalas kebaikan diajeng dengan yang lebih banyak, rejeki melimpah… “ sahutku. Malu karena candaan kemarin ditang...

Serial Rangkat: Ada Galau di Desa Rangkat

Sebagai penghuni baru Desa Rangkat, Ismaharani Lubis atau biasa kupanggil jeng Mahar, belum punya banyak teman. Hanya beberapa orang yang mulai akrab dengannya. Seperti siang ini, tergopoh gopoh dia menghampiri pintu rumahku sambil tersenyum lebar. “ bunda, boleh mampir nggak ?? “ katanya, terengah engah. Wajahnya berkeringat, pipinya merona merah. Beberapa helai rambutnya lengket di kening menambah cantik penampilannya. “ eh, diajeng. Sini…sini.. kebetulan tadi bunda beli buntil daun pepaya, tahu goreng asin dan krupuk. Ayuukk, makan siang bareng bunda… “ tawarku. Sambil ngobrol ngalor ngidul, kami menghabiskan makan siang berdua. Sesekali jeng Mahar mengeluhkan gundah hatinya. “ sebenarnya aku naksir Ari Ryan bund….tapi kenapa dia selalu pergi menemani sang pejalan malam ? kenapa sesekali tak menemani aku menghabiskan malam menghitung bintang ? “ keluhnya. “ lalu kang Inin gimana ? kasihan juga om Ga, dia pasti kelimpungan kalau jeng pilih Ari Ryan….” Kataku, sok tahu. ...