Serial Rangkat: Saat Desa Berselimut Sunyi
Selepas adzan dhuhur berkumandang dari masjid desa Rangkat, mas Pujangga Rangkat melangkahkan kakinya menyusuri sudut desa yang lengang. Hari ini matahari tak bersahabat, cerah senyumnya menghilang digantikan cendawan mendung bagaikan payung, pekat kehitaman. Sesekali gemuruh guntur bersahutan, tanda hujan akan segera tiba.
Sambil berjalan Pujangga Rangkat sibuk memainkan hapenya. Dipencetnya tombol tombol yang berderet sambil komat kamit. Serius sekali rupanya.
secercah rasa dituang oleh senyuman...
mengharap sambut bagai teman hidup..
bukan teman tidur.... ehm 8)
mengharap sambut bagai teman hidup..
bukan teman tidur.... ehm 8)
layar di hape memunculkan sebaris puisi indah, yang entah dikirimkannya kepada siapa. Jeng Asih Sekdes Rangkat yang berpapasan pun sampai terkaget kaget melihat mas Pujangga Rangkat. Tidak biasanya ia bersikap begitu…. Gumam jeng Asih. Keningnya berkerut, sambil geleng geleng kepala.
Di kejauhan nampak jeng Made Kusumadewi berjalan tergesa gesa. Jas putih yang dikenakannya berkibar kibar ditiup angin. Keringat berleleran di keningnya, beberapa helai rambut yang basah menempel di tengkuk dan sisi telinganya, membuatnya nampak makin cantik dengan pipi merona. Rupanya mas Pujangga Rangkat sedang sibuk ber sms ria dengan jeng Made Kusumadewi. Ahaayyy…
Di layar hape nya tertulis :
Hidup dalam rengkuhan rona mewarna
Menuai, mengasih, merasa dalam toreh rasa
Kemarilah....disini bersama kita
Menyerta damai dalam langkah bersama
Menuai, mengasih, merasa dalam toreh rasa
Kemarilah....disini bersama kita
Menyerta damai dalam langkah bersama
Ooohh, rupanya itu yang membuat keduanya seperti dikejar kejar sesuatu.
####
Beberapa hari ini suasana desa sedikit berubah. Mommy jarang sekali muncul dan keluar rumah seperti biasa. Sesekali ayahnda Yayok Haryanto melintas dengan senyum kebapakannya, lalu kembali sibuk dengan beberapa kegiatannya di luar desa. Beberapa warga yang lain tak kalah sibuknya. Zwan, Jingga, Ningwang, Yulianti, Ajeng….. Si Ajen, kang Inin, Mas Hans, mas Repotter….
Apalagi kang Ibay yang biasanya rajin menyambangi pos ronda, sekarang lebih sering bergelut dengan tumpukan kertas di meja kerjanya yang menggunung. Hanya kadang kadang jeng Ismaharani Lubis, Dorma, jeng Yety nampak di kios jeng Sekar, sekedar ngobrol ngalor ngidul.
Ketika mas Pujangga Rangkat bertemu dengan jeng Made Kusumadewi di rumahku, secara kebetulan ayahnda Yayok Haryanto muncul menyerahkan secarik kertas. Rupanya beliau ingin juga menyumbangkan beberapa bait tulisannya. Senyum jeng Made Kusumadewi langsung mengembang. Matanya bersinar sinar saat menggabungkan tulisan itu dengan sms dan naskah yang sudah ada di tangannya.
malam yang sepi tidak melenakan hati
goresan jemari saudara yang merangkat
membuat hangat suasana ...
dinginnya malam justru hangatkan kebersamaan ...
goresan jemari saudara yang merangkat
membuat hangat suasana ...
dinginnya malam justru hangatkan kebersamaan ...
kedua jempolnya serta merta teracung, membuat ayahnda Yayok Haryanto sumringah. Lalu segera disalinnya di draft laptop yang ada di hadapannya.
senyuman memberi berjuta rasa
menghidupkan inspirasi dan imajinasi
bangkitkan semangat untuk berkarya
mempunyai teman hidup sungguhlah mulia
menghidupkan inspirasi dan imajinasi
bangkitkan semangat untuk berkarya
mempunyai teman hidup sungguhlah mulia
berbeda dengan teman tidur
selalu bersama dalam dengkur
saat berjaga jadi tidak akur
karena rasa pun ikut tertidur
selalu bersama dalam dengkur
saat berjaga jadi tidak akur
karena rasa pun ikut tertidur
wah wah wah…makin bersemangat nampaknya. Hingga segelas teh hangat yang kusodorkan langsung diteguknya dalam sekali tenggak. Haus benar rupanya. Mas Pujangga Rangkat hanya tersenyum senyum melihatnya.
“ ini diminum dulu tehnya mas, ayahnda…. Monggo, dicicipi sawut ketela, thiwul, dan grontolnya. Masih hangat kok, cocok untuk teman minum… monggo … silahkan “ kusodorkan jajanan khas Jogja ke meja dekat ayahnda duduk. Mas Pujangga Rangkat meraih grontol dan mencobanya sedikit. Wajahnya langsung berubah nyengir. Lucu sekali. Rupanya dia belum pernah merasakan makanan ini sebelumnya.
“ enak bund… hehe, lidahku masih asing. Makanan seperti ini sudah sulit ditemukan … “ kata mas Pujangga. Eehh, jadi malu. “ Itu makanan ndeso maas…” gumamku, pada diri sendiri.
jeng Made Kusumadewi masih sibuk dengan laptopnya. Sesekali tangannya meraih thiwul dan melahapnya, sementara jemarinya tak henti hentinya menari di atas keyboard menyalin tulisan ayahnda yang puuuaaannnjaaaaaannnggg… hehehe *menyitir tulisan beliau sendiri*.
Persaudaraan dan kebersamaan kita
Ibarat pelangi di cakrawala
Menyatukan indah warna berbeda
Dalam bingkai Desa Rangkat, maya tapi nyata
Ibarat pelangi di cakrawala
Menyatukan indah warna berbeda
Dalam bingkai Desa Rangkat, maya tapi nyata
****
karena lengkung bianglala tlah membuhul indah
tarian jemari di berlembar kertas putih
memanja hasrat, melenakan asa
dalam lantunan nyanyian kedamaian rasa
tarian jemari di berlembar kertas putih
memanja hasrat, melenakan asa
dalam lantunan nyanyian kedamaian rasa
Yaah, meskipun suasana desa sedikit sepi belakangan ini, tetapi penghuninya masih saja berkarya merangkaikan barisan kata kata. Meskipun bunda Yanti masih bersedih karena kang Edy Priyatna masih terbaring sakit, dan bang Relly, Icha, Babe Helmi dan beberapa teman yang lain sedang merancang Pojok Baca Desa Rangkat, kebersamaan diantara warga tetap terjaga. Mereka saling berkomunikasi lewat hape. Candaan, sapaan hangat, sedikit rayu rayuan, ngegombal…. Masih saja sering terdengar di udara desa, menghangatkan hati setiap warga yang sedang bergelut dengan anomali cuaca yang mengancam kesehatan.
Malam ini jemariku menari indah
Tergugah rangkaian kata hangat menyapa
Dari kota sejuk ngayogyakarta hadiningrat
Mengalir lembut menyamput sapa saudariku
Tergugah rangkaian kata hangat menyapa
Dari kota sejuk ngayogyakarta hadiningrat
Mengalir lembut menyamput sapa saudariku
Damai selalu ada
Setiap kita bersua
Karena persaudaraan kita
Selalu hidup di dalam jiwa
Setiap kita bersua
Karena persaudaraan kita
Selalu hidup di dalam jiwa
“ Ini kenanganku saat sendiri di rumah bund…..” kata ayahnda Yayok. Tulisan bunda menginspirasi kalimat ini…” jelasnya lagi. Aku hanya tersenyum. Kurasakan arti tulisan itu dalaaam banget, sebuah tawaran persaudaraan yang akrab, hangat dan meneduhkan. Jeng Made Kusumadewi masih saja sibuk menulis, sama sibuknya dengan mulutnya yang tak henti mengunyah.
“ bund, kapan kapan aku dibuatin yang ini yaa… “ katanya, tangannya menunjuk piring sawut ketela di sebelahnya duduk. “ enaak bund…hehehe….” Katanya lagi. Bibirnya belepotan parutan kelapa yang tak dipedulikannya.
Diam diam mas Pujangga Rangkat menyodorkan sekotak tissue ke tangan Jeng Dewi, yang segera menghapus sekitar bibirnya.
“ ehm ehm…. Waaa, ada story niii….besok buat postingan ECR aah “ goda ayahnda Yayok sambil melirik ke arah mereka. “ gimana pendapatmu bund ? “ kata ayahnda Yayok, kali ini beliau berpaling ke arahku.Kuacungkan ke dua jempol tanganku, dan segera saja muka jeng Dewi merona, sementara mas Pujangga tersipu sipu.
####
Tak terasa, jeng Dewi telah menyalin semua tulisan ke dalam laptopnya. Camilan sudah licin tandas tak bersisa, teh panaspun tinggal gelasnya. Ayahnda Yayok Haryanto, mas Pujangga Rangkat dan Jeng Made Kusumadewi pamit pulang.
Sebelum pulang,mas Pujangga Rangkat menyelipkan secarik kertas ke tangan jeng Dewi, dan segera berlalu mendahului pulang.
rampai rasa dikenang rindu
rampak kasih dibungkus sayang
rampok aku dengan kesungguhan rasa
menyerah daku tiada kemana...
rampak kasih dibungkus sayang
rampok aku dengan kesungguhan rasa
menyerah daku tiada kemana...
“ bund, jangan bilang siapa siapa ya… terutama sama ayahnda Yayok. Aku malu bila ketahuan….” Bisik jeng Dewi. Mukanya merona merah, menambah cantik wajahnya.
“ beres jeng…. Bund bisa jaga rahasia kok ..” sahutku.
Kulepas kepergian mereka dengan lambaian tangan. Kebersamaan ini demikian manis, bahkan melebihi keakraban sesama saudara yang berjauhan.
Sambil menutup pintu gerbang, aku pun berharap. Semoga keindahan dan kedamaian desa ini akan selalu terjaga seperti ini selamanya. Tak ada intrik dan permusuhan diantara penghuni. Aamiin
---000---
Jakal, 24 April 2012
Komentar
Posting Komentar