Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Tak seperti biasanya, studio Radio Rangkat FM hingar bingar pagi ini. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari terakhir, ada kesibukan yang sedikit luar biasa dibandingkan hari hari sebelumnya.

Di sudut teras depan, ada mas Lala sedang asyik dengan gitar bolong pinjaman dari bang Relly. Di samping ruang siaran mas Hans sedang sibuk memencet tuts keyboard sambil menyimak partitur lagu dihadapannya. Kang Inin memboyong satu set peralatan drum dari rumah kang Edy Priyatna, yang belum sembuh benar.

Om Garong tak mau ketinggalan. Sambil memegang mic , sibuk menyanyi sambil menggoyangkan badannya. Lucu, karena iramanya tak sesuai dengan goyangannya.
Untung bunda Enggar tak nampak di studio. Beberapa hari ini siaran hanya berlangsung dari playlist yang dipasang untuk beberapa hari, sementara siaran live ditiadakan.

Itulah sebabnya, semua sibuk berlatih keras. Entah, mau konser dimana.
#####
Tanggal 6 Maret 2012 akhirnya dating juga. Sepanjang hari itu seluruh warga desa Rangkat seolah kompak untuk tidak bertemu dengan bunda Enggar. Suasana desa lumayan sepi, hujan yang turun sejak malam sebelumnya membuat warga enggan keluar rumah. Siaran radio Rangkat FM masih berlangsung seperti biasa. Studio juga sepi, hanya ada beberapa botol minuman kemasan yang belum sempat disingkirkan.

Setelah mengganti playlist dengan yang baru, bunda Enggar melangkah menuju kios kripik Sekar. Udara dingin membuatnya ingin ngemil sesuatu.

Kios masih tutup, kios bakso juga. Toko kue jeng Mahar juga sepi.
“ sepertinya semua orang pergi….. kok aku ga diajak tho..?? “ gumam bunda Enggar. Sambil melangkah pulang, dia seperti mengingat ingat sesuatu.

Sampai menutup pintu pagar dan memasuki rumah, bunda Enggar belum menemukan jawaban atas keanehan di desa. Tetapi pekerjaan di rumah segera menenggelamkan pertanyaan itu.
---000---
Ba’da Maghrib, beberapa siulan aneh sayup memasuki ruang tamu rumah bunda Enggar. Dia merinding, membayangkan sesuatu yang menyeramkan ada di luar sana.
Diintipnya ke luar dari balik gorden jendela. Tak ada apa apa, tak ada siapa siapa.
Kembali didengarnya siulan dan isyarat yang aneh. Tapi dia tak mau beranjak dari depan tv. Jantungnya berdebar tidak karuan.
“ haduuhh, mau minta tolong siapa nii ?? aku takuutt….” Batinnya.
Dia terlonjak dari duduknya saat pintu rumahnya diketuk dari luar.
#####
“ bund……” didengarnya suara seperti suara jeng Selsa Rengganis.
“ bundaaaa…..” kali ini seperti suara mas Hans.
“ mbak Enggaaarr…… “ seperti suara kang Inin, khas dengan logat Sundanya.

Dengan hati hati dia membuka pintu, yang segera membuka karena dorongan yang kuat dari luar.
Jeng Mahar, jeng Selsa, kang Inin, mas Hans, jeng Yety……..seluruh penghuni desa berkumpul di teras depan.
Mereka membawa tumpeng berikut urab sayuran dan peyek teri, dengan pincuk dari daun pisang sebagai piringnya.

Bunda Enggar hanya bisa tertegun tegun. Tak disadarinya air matanya sudah meleleh membasahi pipinya. Tak ada satu kalimatpun yang mampu diucapkannya.
Ayahnda Yayok kemudian berdiri. “ bunda, ini tanda cintakasih dari kami seluruh warga. Hari ini bunda ulang tahun kan ? terimalah, sederhana tapi niat kita tulus…..”

Saat bunda Enggar memotong tumpeng, mas Hans, kang Inin, om Garong, dan mas Lala menyelinap keluar.
Tiba tiba lampu di rumah bunda Enggar padam. Spontan semua berteriak. Kesal dan mangkel.
---000---
Om Garong mendorong gerobaknya, didalamnya terdapat kue ulang tahun berukuran super besar dengan hiasan warna warni seperti kepunyaan anak TK.
Jeng Yety menutup mata bunda Enggar dengan kain hitam, kemudian menuntunnya ke halaman.
Lampu listrik sudah kembali menyala. Rupanya tadi sengaja dimatikan oleh bang Relly.
“ satuuu…. Duuuaaaa… tiiigggaaa “ teriak Om Repotter.

Bersamaan dengan dibukanya penutup mata bunda Enggar, muncullah bang Ibay dari dalam kue ulang tahun yang super besar itu, dengan goyangan bebelac starnya yang sudah mendunia.
Riuh rendah suara tawa seluruh penghuni desa, ditingkah suara band Rangkat dadakan.
Semua bersuka cita, semua bergembira.
Bunda Enggar hanya bisa tersenyum, dengan sisa lelehan air mata bahagia di wajahnya.




Jakal, 11 April 2012



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu