Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Heart Hole

Kesukaan menulis sudah 'mendarah daging' sejak aku kecil. Awalnya tidak menyadari, hanya merasa sangat sukaaa dengan pelajaran mengarang dan menulis bebas. Kalau teman-teman di sekitar mejaku menulis seperempat atau paling banter separuh halaman buku tulis, tetapi aku mampu menulis sepenuh halaman. Kesukaan ini berlanjut hingga ke jenjang SMP. Rasanya semakin terasah karena pengaruh guru yang mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau pandai membangkitkan rasa penasaran tiap siswanya, memberikan apresiasi kepada siswa yang berbakat dan pendampingan bagi yang kurang nilai. Beberapa puisi pernah dimuat di sebuah majalah (sayang sekali, lupa namanya). Itu, seakan mood boster bagiku, untuk tetap semangat menulis. Ratusan puisi, ditulis di sebalik  kertas bekas pakai, tersimpan rapi di laci meja belajar. Jangan tanya sewaktu SMU dan Kuliah. Kemampuan menulis terjun bebas seiring dengan banyaknya kegiatan dan kesibukan di sekolah maupun kuliah. Dilanjut masuk ke dunia kerja, ...

Kidung Penghiburan

Ah, rinduku Masihkah cerana cinta kita bertabur anggur Memabukkan, menjeratku dalam bayang bayang Menyeretku akan asa tak berbilang Di sepertiga malam malam beku Tak cukup seribu bulan, merenda Berkeranjang asa, dalam pintal bunga bunga nostalgi Meski putik satu satu luruh, serakkan tanah basah Sisa hujan sesorean, bekukan belulang Aku disini Bersendiri mengeja gelapnya mendung Selaksa kidung tak beri penghiburan Menggantikan kehilangan Jakal, 26 Maret 2012

di Pantai, Kutinggalkan Kamu

Kutinggalkan namamu, terpahat Hamparan pasir putih melandai Diantara kecipak ombak kecupi pantai Beraroma panggangan, tempat kau duduk mencangkung Batu karang masih kokoh menyangga Tubuh lelahku, teronggok tanpa daya Acuhmu serakkan asaku Berbalur tinta semerah darah Kuhela langkah, tertatih menyeret isak Saat asmara tak lagi berarak Warnai ceruk hati patah beribu keping Keranjang cinta tlah pepat prasangka Juga derai, tangis tak berujung Jakal, 26 Maret 2012

Elegi Senja

semilir bayu belai pucuk pucuk ilalang menari indah, meliuk di pematang berikan penghiburan menjelang senja     cericit burung, dan kelepak kelelawar berkejaran, berburu serangga bersliweran robekkan sepi tepian huma tempatku bersandar, dalam kerimbunan ternyata hari hari serasa sesaat   karena belahan jiwa kan segra mengelana Jakal 26 Maret 2012

Untai Keluh Jejaka

setangkai krisan putih, melayu helai demi helai kelopaknya luruh, semarakkan bumi warnai tanah basah dipelukan kabut malam     di tepian pematang, dangau terbelenggu beku dalam senyapnya nyanyian burung burung malam dan kelepak kelelawar berburu mangsa    sang perjaka adukan kesah entah, adakah kan tiba suatu masa saat raga istirahkan lelah   dalam pangkuan dinda perawan Jakal 26 Maret 2012

Erina Mencari Jejak Angin part 11

Seandainya surat resign itu disetujui, tentu Rahma tak perlu lagi kelayapan ke kantor ini untuk sesekali mengurus berkas-berkas kendaraan lagi. Memang ia sengaja. Beberapa berkas yang seharusnya bisa diurus oleh Pak Muhlar, ia kerjakan sendiri. Rahma ingin memanfaatkan waktu yang tersisa dengan berpamitan kepada para pihak yang sering berhubungan pekerjaan dengannya. Meminta maaf pada mereka atas tindak-tanduk selama bergaul dan berinteraksi. Orang bilang, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Sebuah etika yang masih relevan untuk diterapkan dalam sebuah pergaulan sosial di masyarakat seperti saat ini. Besok, giliran Rahma mengunjungi Pak Burhan. Pria tinggi besar dengan kumis lebat yang melintang di atas bibirnya. ***** Rahma meninggalkan perusahaan itu dengan kesedihan yang mendalam. Bertahun-tahun tumbuh darn berkembang bersama membuat separuh hidupnya seakan tertinggal di sana, di meja kerja yang nyaman. Sayang, memang. Akan tetapi apa boleh buat. ...

Erina Mencari Jejak Angin part 10

“Miaaa …!” Panggilan dari seseorang di belakang Rahma mengejutkannya. Ponsel di tangannya hampir terjatuh karenanya. “Serius amat. Tumben mengurus sendiri ke sini? Apa Pak Muhlar sudah pensiun?” tanyanya sambil menjajari langkah perempuan itu. Tangannya sibuk merapikan berkas yang bertumpuk di lengan kiri. Aroma parfum lembut mengelus lubang hidup Rahma, membuatnya sekejap menahan napas. Dan senyumnya? Amboii, manis sekali. “Eeh, Daryo. Hehe, biasaa. Kangen sama Pak Brotoseno,” bisik Rahma menggoda. Mereka tertawa bersama. Pak Brotoseno merupakan petugas favorit mereka mereka yang sering berkunjung ke kantor ini. Tentu saja, karena beliau yang paling ramah melayani. “Hayoo … ada sandal, yaa?” tanyanya. Kali ini dia sigap berkelit dari cubitan yang dilayangkan Rahma. Sandal yang dimaksudkannya adalah skandal. Tentu saja, Daryo hanya berniat menggoda. “Iya. Sandal. Sandal japit. Murah meriah,” jawab Rahma tak kalah kocak. “Apa bukan sandal Lily? Bisa ditukar gereh ...

Erina Mencari Jejak Angin part 9

“Belum, Pak. Saya ingin Bapak yang pertama kali mengetahuinya. Saya hanya menjaga perasaan teman-teman. Kalau pun mereka nanti mendengar perihal ini, biarlah mereka mengetahuinya dari penjelasan Bapak. Saya tidak ingin mereka salah mengerti. Apalagi beranggapan miring soal perdebatan kita.” Pak Hendra mengangguk-angguk. “Baik, Pak. Saya akan menunggu. Saya hanya berharap, Bapak bisa memahami posisi saya, seandainya Bapak mengalami hal yang sama seperti saya. Sungguh, saya hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi kedua anak saya, Pak.” “Saya mengerti. Saya juga memahami perasaanmu saat ini, Mia. Tapi beri saya waktu untuk berunding. Secepatnya saya akan beritahukan keputusan perusahaan kepadamu. Jangan khawatir.” Pak Hendra menepuk pundak Rahma perlahan. Tepukan penuh kebapakan itu sontak membuat air mata perempuan itu yang sejak tadi ditahan-tahannya, runtuh juga. Perusahaan ini sudah menjadi rumah kedua Rahma sejak bertahun-tahun. Berapa banyak waktu yang telah ia l...

Erina Mencari Jejak Angin part 8

Akhirnya Rahma memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Teman-teman kerja sangat terkejut saat mengetahuinya. Pak Hendra, Manager Operasional yang kebapakan itu memandangi raut wajah Rahma begitu rupa. Ia seolah tak percaya dengan surat resign yang disodorkan bawahannya itu ke hadapan. “Jadi … kau … kau akan …?” tanyanya memastikan. Dibolak-baliknya kertas itu meskipun ia tahu tak ada apa-apa di sebaliknya. “Kenapa? Apakah gaji yang kau terima kurang besar? Atau … kau tidak cocok dengan rekan kerja di divisimu sekarang? Aku bisa memindahkanmu ke bagian lain, tempat yang kau inginkan bila mau.” “Tidak, Pak. Terima kasih. Tidak ada apa-apa dengan teman-teman di divisi ini. Saya sebenarnya juga masih kerasan bekerja di sini, Pak.” “Lalu kenapa?” cecarnya. “Saya hanya ingin punya waktu lebih banyak untuk mendampingi anak-anak, Pak. Mereka sedang membutuhkan kehadiran saya, sekarang. Saya tak ingin melewatkan masa emas perkembangan jiwanya.” Pak Hendra ter...

Penghujung Sabana

Rinai ini memaku aku Dalam detak debur tak berujung Membunuh waktu, enyahkan senyap Saat bersendiri, di penghujung sabana Kepak sayap serangga siang Geletar putik bebungaan, terangguk angguk Seakan usir pelukan kabut Membeku, membingkai hati Ah, ku terpekur Menunggu rindu Jakal, 26 Maret 2012

Lelaki Khayalan

Ponsel Ninda berbunyi tiba tiba. 'Cantik, selamat pagi. Kenapa sms-ku tak berbalas? ' satu message dari Niko mampir di ponselnya. 'Sms yang mana? Tak ada satu pun di ponselku'. Ditengoknya inbox, tak ada sebuah pesan pun yang masuk. 'Waduh, nyasar kemana, ya? Hehe. Btw, tak inginkah cantik jalan-jalan pagi ini?' balas Niko, semakin menambah rasa penasaran Ninda. Dia tak mengerti maksud Niko. 'Malas, aah. Mana udara dingin, hujan. Lagian, apa Mas mau nemenin?' balas Ninda , sedikit sewot. Dia tahu ini hanya candaan, karena tidak mungkin Niko mengajak ketemuan di Hari Minggu begini. 'Aku di Metro Hotel. Maukah kau datang mengunjungiku? Siang nanti aku sudah harus pulang ke Medan'. Lagi lagi Niko mengejutkan Ninda. 'Ternyata dia ada di sini, di kotaku,' batin Ninda. Dia bergegas, buru buru mandi dan berdandan serapi mungkin. Tak ingin melewatkan kesempatan yang jarang dia dapatkan ini. Dalam taksi yang membawa Ninda mene...

Untai Keluh Jejaka

setangkai krisan putih, melayu helai demi helai kelopaknya luruh, semarakkan bumi warnai tanah basah dipelukan kabut malam     di tepian pematang, dangau terbelenggu beku dalam senyapnya nyanyian burung burung malam dan kelepak kelelawar berburu mangsa    sang perjaka adukan kesah entah, adakah kan tiba suatu masa saat raga istirahkan lelah   dalam pangkuan dinda perawan ~~Jakal, 26 Maret 2012

Sang Pengelana

orkestra malam, dalam separuh bulan sibakkan sepi  selimuti huma belantara ilalang masih tersisa tetes tetes hujan, sisa sesorean peluki kabut, halimun membayang   dalam keheningan, masihkan kau dengar bisik mereka terduduk di emperan dalam gigilan tubuh beku tak sebutir nasipun singgah  meski mengelana sepanjang siang   entah, dengan apakah akan bertahan hingga esok, saat mentari cerahkan sejauh pandang ~~Jakal, 26 Maret 2012~~

Balutan Nyanyian Sunyi

kabut masih menggelantung, pekat saat selimut malamku abai songsong surya bersemburat pelangi bersama rama rama hiasi kelok pematang di sini dalam balutan nyanyi sunyi ku terdiam tak hendak beranjak segan menyongsong siang ~~Jakal, 26 Maret 2012~~

Terpenjara Rindu

mematung di pematang, dalam naungan bagaskara temani mereka mereka yang berpeluh mengkilat, dalam siraman cahya mentari terbungkuk rampungkan beban   meski riuh cericit burung dan serangga kecil berkejaran dan celoteh riang para perawan siapkan bekal, ditingkah denting gelas beradu namun ku tetap merasa sunyi di keramaian bayang dan rengek memanjamu bangkitkan rasa, seonggok rindu yang terpenjara ~~Jakal, 26 Maret 2012