Heart Hole
Kesukaan menulis sudah 'mendarah daging' sejak aku kecil. Awalnya tidak menyadari, hanya merasa sangat sukaaa dengan pelajaran mengarang dan menulis bebas. Kalau teman-teman di sekitar mejaku menulis seperempat atau paling banter separuh halaman buku tulis, tetapi aku mampu menulis sepenuh halaman.
Kesukaan ini berlanjut hingga ke jenjang SMP. Rasanya semakin terasah karena pengaruh guru yang mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau pandai membangkitkan rasa penasaran tiap siswanya, memberikan apresiasi kepada siswa yang berbakat dan pendampingan bagi yang kurang nilai. Beberapa puisi pernah dimuat di sebuah majalah (sayang sekali, lupa namanya). Itu, seakan mood boster bagiku, untuk tetap semangat menulis. Ratusan puisi, ditulis di sebalik kertas bekas pakai, tersimpan rapi di laci meja belajar.
Jangan tanya sewaktu SMU dan Kuliah. Kemampuan menulis terjun bebas seiring dengan banyaknya kegiatan dan kesibukan di sekolah maupun kuliah.
Dilanjut masuk ke dunia kerja, kegiatan tulis menulis hanya tinggal di awang-awang. Waktuku habis oleh rutinitas, siapin anak-anak, berangkat kerja, pulang dan tenggelam dalam kesibukan keseharian.
Keinginan menulis kembali muncul di tahun 2011 ... usia sudah mulai mendekati paruh baya. Dua tiga tahun yang produktif, selama rentang waktu tersebut. Ratusan judul cerpen, puisi, beberapa artikel bisa kuhasilkan. Saat itu aku tergabung dalam blog keroyokan besutan media lokal ternama. Sayang, beberapa tulisanku sekarang tidak bisa dibuka lagi. Entah di mana error-nya.
Satu yang masih menjadi ganjalan di hati. Penghargaan. Yaa ... sebuah harapan yang mungkin tak akan bisa aku peroleh dari orang-orang terdekat.
Setiap kali buku keroyokanku terbit, tak ada sambutan yang berarti dari orang-orang yang kusayangi. Acuh tak acuh.
Mendapat predikat juara pun, adem saja reaksinya.
Awalnya aku sakit hati, pengin berontak, ngomel-ngomel tidak karuan (meski hanya dalam hati) ... tapi akhirnya aku 'ndhadha' -berusaha mengerti jalan pikiran mereka.
Mungkin, dunia tulis menulis bukan dunia mereka.
Alhamdulillah, masih diijinkan menulis saja, sudah anugerah buatku. Ditambah fasilitas penunjang, anggap saja itu penghargaan bagi kesenanganku.
Sebab, menulis bagiku adalah sebuah terapi menolak kepikunan, belajar konsisten, runut menuliskan sebuah kisah dan entah apa lagi. Sampai sekarang belum ketemu jawaban lainnya.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar