Erina Mencari Jejak Angin part 10


“Miaaa …!” Panggilan dari seseorang di belakang Rahma mengejutkannya. Ponsel di tangannya hampir terjatuh karenanya.

“Serius amat. Tumben mengurus sendiri ke sini? Apa Pak Muhlar sudah pensiun?” tanyanya sambil menjajari langkah perempuan itu. Tangannya sibuk merapikan berkas yang bertumpuk di lengan kiri. Aroma parfum lembut mengelus lubang hidup Rahma, membuatnya sekejap menahan napas. Dan senyumnya? Amboii, manis sekali.

“Eeh, Daryo. Hehe, biasaa. Kangen sama Pak Brotoseno,” bisik Rahma menggoda. Mereka tertawa bersama. Pak Brotoseno merupakan petugas favorit mereka mereka yang sering berkunjung ke kantor ini. Tentu saja, karena beliau yang paling ramah melayani.

“Hayoo … ada sandal, yaa?” tanyanya. Kali ini dia sigap berkelit dari cubitan yang dilayangkan Rahma. Sandal yang dimaksudkannya adalah skandal. Tentu saja, Daryo hanya berniat menggoda.

“Iya. Sandal. Sandal japit. Murah meriah,” jawab Rahma tak kalah kocak.

“Apa bukan sandal Lily? Bisa ditukar gereh –ikan asin, tuuh,” sahut Daryo lagi. Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka yang berjalan berendeng sambil tertawa-tawa.

Ingatan Rahma melayang ke masa lalu, sering didengarnya gurauan getir, tapi menerbitkan senyum bila diingat kembali. Saat jaman susah, begitu orang menyebutnya.

“Siip deh, sandal japit diijolke gereh –ditukarkan ikan asin. Sebuah joke –sindiran yang megiris perasaan sering sekali terdengar. Sebagai bahan olok-olok. Sandal japit, sebuah perumpamaan dari tingkat kemiskinan seseorang. Mereka hanya mampu membeli sandal japit, merk yang populer kala itu Lily, yang bisa ditukar dengan ikan asin saat sudah putus tali srampatnya atau rusak karena aus.

Biasanya para pemulung yang berkeliling dari kampung ke kampung  akan membawa ikan asin yang digunakan sebagai alat tukar. Sekarang, hal ini sudah jarang ditemukan lagi. Kebanyakan para pencari rosok –barang bekas akan membelinya secara tunai, tidak lagi ditukar barang seperti jaman dulu.

“Hahaha … jaman susah jangan diingat-ingat!” seru Rahma sambil memukul bahu Daryo pelan. Laki-laki itu tertawa ngakak. Tak mempedulikan tatapan para pengunjung yangterheran-heran melihat tingkah mereka berdua.

“Yuuk, aah. Saya harus ketemu Bapak Tampan dulu,” bisik Rahma di telinga Daryo yang mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu melambai setelah tangannya mengirim kissbye pada perempuan semampai itu.

Rahma mengacungkan jempolnya sebelum berlalu. Ia lalu membelok ke arah lorong sambil tersenyum mengingat percakapan tadi. Hampir saja,  ia menabrak seseorang yang sedang terburu-buru. Senyumnya lenyap seketika karena terkejut. Pria di depannya pun tak kalah kagetnya.



~~bersambung~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu