Erina Mencari Jejak Angin part 8


Akhirnya Rahma memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Teman-teman kerja sangat terkejut saat mengetahuinya. Pak Hendra, Manager Operasional yang kebapakan itu memandangi raut wajah Rahma begitu rupa. Ia seolah tak percaya dengan surat resign yang disodorkan bawahannya itu ke hadapan.

“Jadi … kau … kau akan …?” tanyanya memastikan. Dibolak-baliknya kertas itu meskipun ia tahu tak ada apa-apa di sebaliknya.

“Kenapa? Apakah gaji yang kau terima kurang besar? Atau … kau tidak cocok dengan rekan kerja di divisimu sekarang? Aku bisa memindahkanmu ke bagian lain, tempat yang kau inginkan bila mau.”

“Tidak, Pak. Terima kasih. Tidak ada apa-apa dengan teman-teman di divisi ini. Saya sebenarnya juga masih kerasan bekerja di sini, Pak.”

“Lalu kenapa?” cecarnya.

“Saya hanya ingin punya waktu lebih banyak untuk mendampingi anak-anak, Pak. Mereka sedang membutuhkan kehadiran saya, sekarang. Saya tak ingin melewatkan masa emas perkembangan jiwanya.”

Pak Hendra terdiam di kursinya yang empuk.  Belliau menyimak seluruh penjelasan yang Rahma berikan dengan serius, tanpa sekali pun memotong kata-katanya.

“Sayang sekali, yaa. Padahal tahun depan saya ingin mempromosikanmu untuk jabatan yang lebih tinggi. Kau tahu, kan? Tahun depan Pak Gatot pensiun. Saya mengajukanmu sebagai salah satu kandidat pengganti beliau.”

“Terima kasih sekali atas kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan ke pundak saya, Pak. Akan tetapi saya sudah memutuskan, memilih menjadi ibu rumah tangga semata, demi perkembangan anak-anak saya.”

Setelah diam beberapa saat, Pak Hendra meminta waktu untuk berpikir. Ia harus membicarakan pengunduran diri Rahma dengan beberapa manager dan direktur dari divisi yang lain dulu.

“Tunggulah barang satu atau dua minggu. Saya tidak bisa memutuskan pengunduran diri itu sendirian. Kau tahu itu, Mia.”

“Tapi, Pak ….”

“Kenapa? Bukankah kau harus membereskan seluruh beban pekerjaanmu sebelum kau tinggalkan? Kau bahkan belum serah terima berkas-berkas kepada penggantimu, kan?”

“Semua sudah saya siapkan, Pak. Kalau Bapak menghendaki, berkas itu akan saya serahkan sekarang.”

“Mia, tak bisa seperti itu. Kau akan meninggalkan kesan buruk pada teman-temanmu di sini. Pengunduran diri ini terkesan terlalu mendadak. Mereka akan mengira bahwa kau mundur karena perdebatan kita yang terjadi di rapat bulanan minggu lalu. Kau ingat?”

Rahma mengangguk. 
Selama ini ia tak pernah mendebat penjelasan yang diberikan Pak Hendra dalam rapat bulanan. Namun, saat itu, mereka beradu argumen dengan sengit, sama-sama bertahan dengan pendapat yang dianggap benar.

Ah, suasana seperti itu tak akan ia temui lagi di hari-hari mendatang.

“Apa kau sudah menyinggung perihal pengunduran diri ini di hadapan teman-teman divisimu? Apa kata mereka?” tanya Pak Hendra tiba-tiba.



~~bersambung~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu