Erina Mencari Jejak Angin part 9


“Belum, Pak. Saya ingin Bapak yang pertama kali mengetahuinya. Saya hanya menjaga perasaan teman-teman. Kalau pun mereka nanti mendengar perihal ini, biarlah mereka mengetahuinya dari penjelasan Bapak. Saya tidak ingin mereka salah mengerti. Apalagi beranggapan miring soal perdebatan kita.”

Pak Hendra mengangguk-angguk.

“Baik, Pak. Saya akan menunggu. Saya hanya berharap, Bapak bisa memahami posisi saya, seandainya Bapak mengalami hal yang sama seperti saya. Sungguh, saya hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi kedua anak saya, Pak.”

“Saya mengerti. Saya juga memahami perasaanmu saat ini, Mia. Tapi beri saya waktu untuk berunding. Secepatnya saya akan beritahukan keputusan perusahaan kepadamu. Jangan khawatir.”
Pak Hendra menepuk pundak Rahma perlahan. Tepukan penuh kebapakan itu sontak membuat air mata perempuan itu yang sejak tadi ditahan-tahannya, runtuh juga.

Perusahaan ini sudah menjadi rumah kedua Rahma sejak bertahun-tahun. Berapa banyak waktu yang telah ia lewatkan bersama dalam susah dan senang. Ah, berat sekali rasanya.

Bekerja di kantor itu memungkinkan Rahma mengenal dan bergaul dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Dari pengusaha otobus, perusahaan angkutan pedesaan, pemilik armada truk, hingga para petani dari desa pelosok. Mereka semua sama derajatnya, tak ada yang lebih istimewa bila dibandingkan dengan lainnya.

Belum lagi bila harus berurusan dengan instansi, dinas dan perusahaan lainnya. Bemacam gaya, tabiat dan perangai masing-masing orang dapat ditemui di sana.


*****

Dua hari sebelum surat resign diserahkan Rahma ke Pak Hendra, ia mengurus sendiri surat kendaraan yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Riuh rendah geremang suara dari kerumunan orang yang menunggu, menyambut kehadirannya. Belum terlalu siang sebenarnya, tetapi kantor itu sudah dipenuhi para Wajib Pajak yang duduk rapi di kursi tunggu depan setiap loket yang tersedia.

Bunyi dak-dek-dok, panggilan dari pengeras suara yang dipasang di setiap sudut, dan juga dering nada panggilan dari ponsel mereka menambah hiruk-pikuk ruangan besar dengan jajaran loket di salah satu sisi dindingnya. Tak ada satu pun tempat lowong di kursi panjang yang disediakan di depan masing-masing loket. Penuh para pengantre.

Tingkah mereka bermacam-macam. Ada yang membaca koran, majalah yang dibeli dari pengasong di pintu gerbang, ada yang membaca buku. Ada pula yang mengobrol dengan teman yang kebetulan dijumpai di tempat yang sama. Ada lagi yang asyik dengan ponselnya, tak mempedulikan keadaan di kiri dan kanannya. Beberapa lagi, tampak terangguk-angguk menahan kantuk di sudut kursi yang didudukinya.

Menunggu memang menjemukan, setidaknya bagi mereka yang tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan baik. Toh, tak sedikit pula yang sibuk dengan pekerjaan yang dibawa, sambil menunggu namanya dipanggil oleh petugas loket.



~~bersambung~~



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu