Erina Mencari Jejak Angin part 11


Seandainya surat resign itu disetujui, tentu Rahma tak perlu lagi kelayapan ke kantor ini untuk sesekali mengurus berkas-berkas kendaraan lagi.

Memang ia sengaja. Beberapa berkas yang seharusnya bisa diurus oleh Pak Muhlar, ia kerjakan sendiri. Rahma ingin memanfaatkan waktu yang tersisa dengan berpamitan kepada para pihak yang sering berhubungan pekerjaan dengannya. Meminta maaf pada mereka atas tindak-tanduk selama bergaul dan berinteraksi.

Orang bilang, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Sebuah etika yang masih relevan untuk diterapkan dalam sebuah pergaulan sosial di masyarakat seperti saat ini.

Besok, giliran Rahma mengunjungi Pak Burhan. Pria tinggi besar dengan kumis lebat yang melintang di atas bibirnya.


*****


Rahma meninggalkan perusahaan itu dengan kesedihan yang mendalam. Bertahun-tahun tumbuh darn berkembang bersama membuat separuh hidupnya seakan tertinggal di sana, di meja kerja yang nyaman. Sayang, memang. Akan tetapi apa boleh buat.

Seandainya badannya boleh dibelah menjadi dua, dan bisa berada di dua tempat yang berbeda pada saat yang sama. Ah, sudahlah. Setiap keputusan butuh sebuah pengorbanan, bukan?

Rutinitas Rahma berubah sejak saat itu. Setiap hari ia mengantar jemput anak-anak ke dan dari sekolah. Waktu yang tersisa diantara dua kegiatan ini diisinya dengan memasak, membersihkan rumah dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya. Ia mengambil alih semua tanggung jawab yang selama ini dibebankan kepada Mak Minah, asisten rumah tangganya.

Biarlah dia sedikit merasa lega, pekerjaan yang menjadi bebannya tidak terlalu berat lagi. Saat Rahma masih bekerja di luar rumah, ia hampir tak punya waktu untuk membantu asistennya, sekadar meringankan beban pekerjaannya.

“Biar saya yang mengerjakannya, Bu.” Begitu katanya selalu. Mak Minah lebih sering melarang Rahma membantunya meskipun hanya menyiapkan piring di meja makan saat makan malam.

“Ibu sudah capek bekerja, kok, masih repot-repot siapin ini.”

“Tapi, Mak ….”

“Gak pa pa, Bu. Saya sudah biasa, kok.” Tangannya cekatan sekali menyiapkan hidangan dan menata meja makan tempat mereka biasa berkumpul. Makan malam disambung obrolan ringan seputar kejadian yang ditemui sehari-hari.

Sesekali Mak Minah ikut pula bergabung bila obrolan di antara mereka seputar artis ternama yang ditayangkan di layar televisi. Korban infotainment –begitu istilah Rahma.

“Ini siapa yang memasak? Mama?” tanya Erina.

Rahma mengangguk. Sulungnya makan dengan lahap. Sesendok penuh sayur dituangkan ke piringnya yang masih berisi nasi setengah.

“Sayurnya enak,” katanya dengan mulut penuh. Baru kali ini Rahma melihat Erina menikmati makanannya. Tak seperti biasanya yang ogah-ogahan.

Dulu, gadis itu sangat susah makan.

“Udaah kenyaaang ….” Digelengkannya kepala kuat-kuat. Ia menolak membuka mulutnya.

“Tapi ini belum habis ….” Rahma mendengar Mak Minah berusaha membujuk.

“Erinaa!” tegur perempuan itu. Gadisnya masih tetap menggeleng. Justru telapak tangannya ditutupkan di mulut.

“Tak baik menyisakan makanan di piring. Lihat, di luaran sana, masih banyak anak-anak yang tidak bisa makan kenyang,” bujuk Rahma lagi.

“Erin ….”

“Enggak … enggak mau. Erin nggak mauu.” Suaranya terdengar makin menjauh.

“Mak. Sudahlah. Nanti dia malah kabur ke tetangga. Biar nanti saya yang suapi,” kata Rahma menenangkan asisten rumah tangganya. Perempuan itu beranjak ke dapur menyimpan mangkuk tempat makan Erina.

Bukan kali itu saja anak sulungnya menolak menghabiskan jatah makan. Begitulah ulahnya setiap kali jam makan tiba. Butuh berjam-jam untuk menyuapi Erina yang susah makan.

Baru Rahma sadari sekarang, ternyata anak-anak tak cocok dengan masakan Mak Minah. Duuh, jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. Perasaan bersalah mulai mengikis ketegaran Rahma selama ini.

‘Mama bersalah padamu, Nak,’ batinnya pilu. Perih terasa mengiris di ulu hati.


~~bersambung~~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu