Lelaki Khayalan

Ponsel Ninda berbunyi tiba tiba.
'Cantik, selamat pagi. Kenapa sms-ku tak berbalas? ' satu message dari Niko mampir di ponselnya.

'Sms yang mana? Tak ada satu pun di ponselku'. Ditengoknya inbox, tak ada sebuah pesan pun yang masuk.

'Waduh, nyasar kemana, ya? Hehe. Btw, tak inginkah cantik jalan-jalan pagi ini?' balas Niko, semakin menambah rasa penasaran Ninda. Dia tak mengerti maksud Niko.

'Malas, aah. Mana udara dingin, hujan. Lagian, apa Mas mau nemenin?' balas Ninda , sedikit sewot. Dia tahu ini hanya candaan, karena tidak mungkin Niko mengajak ketemuan di Hari Minggu begini.

'Aku di Metro Hotel. Maukah kau datang mengunjungiku? Siang nanti aku sudah harus pulang ke Medan'.
Lagi lagi Niko mengejutkan Ninda.

'Ternyata dia ada di sini, di kotaku,' batin Ninda.

Dia bergegas, buru buru mandi dan berdandan serapi mungkin. Tak ingin melewatkan kesempatan yang jarang dia dapatkan ini. Dalam taksi yang membawa Ninda menemui Niko, dikirimnya sms balasan. 'Kuusahakan, ya, tapi ga janji. Taksinya susah banget,ni'.

Saat Niko membukakan pintu kamar, Ninda menghambur ke pelukannya. Dua bulan tak melihatnya, terasa sangat lama. Apalagi Niko selalu sibuk, jadwal hariannya selalu padat dan melelahkan. Bahkan terkadang sms yang dia kirimkan tak dibalasnya.

“Kalau aku tadi tak jadi datang, apa Mas kecewa?” tanya Ninda, sambil berbaring di dada bidang laki-laki itu.

“Sedikit kecewa," jawab Niko.

Dihabiskannya waktu yang tersisa bersama Niko. Berbaring bersisian, jemari saling bertaut. Menikmati hangatnya kebersamaan dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing.

“Cantik, sudah waktunya aku pulang,” bisik Niko. Dilepaskannya pelukan Ninda pelan-pelan. Sebenarnya ia masih ingin bersama wanita itu. Tetapi panggilan tugas memaksanya untuk segera terbang kembali.

“Aku masih kangen, Mas,” balas Ninda, tak ingin melepas pelukannya. Wanita itu tahu, kesempatan seperti ini sangat jarang bisa dinikmatinya.

Niko memeluk Ninda erat-erat, seakan tak ingin melepasnya lagi. Dikecupnya kening wanita itu sepenuh perasaan. Meskipun tak pernah sekalipun terucap kata cinta dari bibirnya, tetapi Ninda tahu bila laki-laki itu menyayanginya.

"Sampai ketemu lagi ya, Cantik, hati hati di jalan,” bisik Niko, tangannya masih menggenggam jemari Ninda, seakan enggan berpisah.

Berdua mereka menuju ke resepsionis, menyelesaikan administrasi. Niko mengantar Ninda ke pangkalan taksi, dan melepas wanita itu pulang kembali ke rumahnya.

Ya, Niko akan segera terbang ke Medan, tempat dimana anak dan istrinya bertempat tinggal. Ninda hanyalah satu diantara wanita-wanita kesayangannya, yang selalu bersedia menemaninya bila dia sedang tugas ke luar kota seperti sekarang ini.

Sementara Ninda pun juga kembali ke rumahnya, ke keluarga dan ke dunianya sendiri. Niko hanyalah lelaki khayalan yang disayangi, yang tak bisa menjadi miliknya.

Jakal 26 Maret 2012





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu