Serial Rangkat: Ada Galau di Desa Rangkat

Sebagai penghuni baru Desa Rangkat, Ismaharani Lubis atau biasa kupanggil jeng Mahar, belum punya banyak teman. Hanya beberapa orang yang mulai akrab dengannya.
Seperti siang ini, tergopoh gopoh dia menghampiri pintu rumahku sambil tersenyum lebar.
“ bunda, boleh mampir nggak ?? “ katanya, terengah engah. Wajahnya berkeringat, pipinya merona merah. Beberapa helai rambutnya lengket di kening menambah cantik penampilannya.
“ eh, diajeng. Sini…sini.. kebetulan tadi bunda beli buntil daun pepaya, tahu goreng asin dan krupuk. Ayuukk, makan siang bareng bunda… “ tawarku.
Sambil ngobrol ngalor ngidul, kami menghabiskan makan siang berdua. Sesekali jeng Mahar mengeluhkan gundah hatinya.
“ sebenarnya aku naksir Ari Ryan bund….tapi kenapa dia selalu pergi menemani sang pejalan malam ? kenapa sesekali tak menemani aku menghabiskan malam menghitung bintang ? “ keluhnya.
“ lalu kang Inin gimana ? kasihan juga om Ga, dia pasti kelimpungan kalau jeng pilih Ari Ryan….” Kataku, sok tahu. Sotooyy pokoknya. Padahal ???
“ itulah bund…. Galau galau galau….” Jeng Mahar menghentakkan kakinya, mukanya cemberut dengan air mata berlinang linang. Tapiii, semakin menambah kecantikan wajahnya.
Tak terasa waktu makan siang sudah habis, jeng Mahar pun pamit pulang. Sebelumnya sempat dibisikkannya sebuah nama yang masih asing di telingaku.

---000---

Danes Anthonius….. aku sibuk mengingat ingat. Yang mana ya orangnya ? sepertinya aku masih belum ngeh dengan nama itu. Mungkin warga lama Rangkat yang merantau apa ya ? atau….????
Saat mendekor ulang ruangan di sebelah Balai Desa Rangkat yang akan kujadikan studio radio, tiba tiba Ajeng melintas. Kepalanya nongol dibalik pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
“ bundaaa….” Katanya mengagetkanku. “ bunda liat Arif Tirtana nggak ?? “ sambungnya.
“ sepertinya enggak tuuhh.. bunda nggak yakin juga, karena bunda ada di dalam sejak tadi… emang ada apa ?? “
“ ah nggak apa apa kok bund, lupakan saja …” kata Ajeng. Dia pun pamit pulang setelah mengacungkan kedua jempolnya. “ warna yang bagus bund…”

Meskipun sedang galau, Ajeng masih sempat sempatnya memperhatikan pilihan warna studio yang sedang kuselesaikan. Ada ada saja…
Segera kuselesaikan pekerjaanku, menutup pintu dan menguncinya sekalian. Kulihat Sekar sedang mengobrol dengan Om Garong di depan kios kripiknya.
“ apakah jeng Sekar tidak punya stok kripik lagi ? kok sudah dua hari ini jeng tidak membuka kiosnya ? “ tanyaku. Kulihat sekilas Om Garong tersenyum, entah apa maksudnya.
“ iya bund, kemarin ada yang memborong dagangan , makanya saya kehabisan stok. Ini, Om Garong sedang menawarkan jengkol hasil kebunnya yang di Majalengka… “ jawabnya. Pipinya tiba tiba merona merah, sungguh, kecantikan yang sempurna. Tanpa sadar, Om Garong tak berkedip melihat pemandangan itu.
“ ooh gitu ya. Ya udah nggak pa pa, sebenarnya bund mau beli beberapa bungkus. Kripik jengkol rasa sambel ijo kemarin membuat ketagihan….”
“ ayuukk, bund duluan ya….” Seulas senyum malu malu nampak di wajah Sekar. Amboooiii, cantiknyaa.

---000---

Rupanya jeng Mahar sudah menungguku di teras rumah. Wajahnya berseri seri, dan lesung pipit selalu menghiasi pipinya.
“ eehh, ada tamu. Sudah lama dinda ?? maaf lho, kok nggak telepon dulu kalau mau bertandang ?? “

Kubukakan pintu, dan seperti biasa, jeng Mahar langsung menerobos masuk mendahuluiku. Disodorkannya hapenya, seraut wajah macho nampak di layar.
“ ini yang kemarin kuceritakan bund….” Malu malu jeng Mahar menjelaskan, pandang matanya tak lepas dari layar hapenya.
“ cakep. Keliatannya orangnya baik hati, cool…..” jawabku, meskipun sebenarnya aku belum pernah melihatnya di desa.
“ bunda dukung kok, kalau jeng Mahar jadian dengan dia …” sahutku lagi. Kulihat senyum lebar di wajahnya. Ahaayyy, merasa dapat dukungan rupanya.

---000---

Memasuki bulan Februari, suasana desa makin berwarna. Nuansa warna kasih sayang, warna merah muda begitu mendominasi sudut sudut desa. Lihat saja, gladiol di balai desa, warnanya tidak lagi putih seperti biasa.

Warung bakso Om Garong pun berganti cat dengan warna pink, warna kasih sayang. Belum lagi sepeda onthel milik kang Inin, warna pink ngejreng menjadi pilihannya. Balon balon warna pink bergelantungan di sekelilingnya, meriah sekali.

Ari Jaka dan Kang Inin masih saja sibuk merayu Kembang, masing masing punya strategi untuk menunjukkan kelebihannya. Sementara mas Hans, meskipun kelihatannya adem ayem, tetap saja berusaha menarik perhatian Sekar… sementara Om Garong ?? hahaha, dia juga masih galau. Cerita cintanya masih saja kacau balau.

Jeng Mahar makin akrab saja denganku. Hampir setiap hari dia nongkrong di depan ruangan di sebelah balai desa, membantuku mendekor dan mendesain ulang. Maklum, waktu launching makin dekat, sementara persiapan belum sepenuhnya rampung.

Foto laki laki misterius di layar hape jeng Mahar masih saja terpampang di sana. Belum ada perkembangan berarti dari hubungan mereka. Sementara Si Ajen, Ajeng, Om Repott, Yuianti, Zwan juga masih maju mundur kisah cintanya. Hhhmmm, benar benar membingungkan ini.

---000---

Undangan sudah beredar, studio Radio Rangkat sudah cantik dan berwarna warni oleh kertas hias. Kang Inin memarkir sepeda onthelnya di halaman. Sementara Om Garong meminggirkan gerobak pink nya di sisi ruang siaran.

Sekar tampil cantik dengan kebaya berendanya. Si Ajen, Ajeng, Zwan, Yulianti, Dorma kompak mengenakan gaun tipis menerawang penuh bunga bunga merah jambu di ujung lengan dan lehernya. Aa Kades tampil formal seperti biasa, didampingi Mommy yang mengenakan kebaya beludru warna ungu dengan konde kebesarannya.

Om Repotter sibuk dengan kamera dan microphonenya, mengatur hadirin dan undangan agar duduk di tempat yang telah ditentukan. Semalam pak RW dan mas RT bertandang ke studio, dan dengan senang hati membantu mengatur dan menandai kursi undangan yang tertata rapi.

Hampir seluruh warga desa menghadiri pembukaan Radio Rangkat. Kesempatan ini jarang bisa didapat mengingat kesibukan masing masing. Jadilah, menghadiri undangan sekalian reuni keluarga besar Rangkat.
Upacara peresmian berlangsung khidmat. Setelah serangkaian pidato dan sambutan dari para petinggi Desa Rangkat, tibalah acara ramah tamah dan hiburan.

Masing masing warga unjuk kebolehan masing masing. Ada yang bernyanyi, membaca puisi, stand up comedy…. Suasana berubah menjadi sangat meriah.

……

Diam diam aku berkeliling ke setiap sudut perhelatan. Di belakang gerobag dorong milik mas Fahmi, dik Minah sedang berduaan dengan Om Garong. Kang Inin dengan santainya duduk di boncengan sepeda onthelnya yang penuh dengan balon warna pink, sibuk membujuk Kembang agar mau menerima bunga jengkolnya yang sudah disepuh warna merah muda.

Ari Jaka celingak celinguk, matanya mencari cari seseorang. Ari Ryan malahan duduk santai bersama teman teman pejalan malamnya, tak menghiraukan keriuhan dan hiruk pikuk suasana peresmian itu. Para gadis Rangkat beredar dari satu kelompok ke kelompok lain. Celoteh mereka mengalahkan suara penyanyi di panggung. Senang rasanya melihat keceriaan mereka, seolah hidup mereka mengalir penuh warna tanpa masalah di dalamnya.

Tetapi aku tahu, jauh di lubuk hati mereka menyimpan galau dan kebimbangan. Kusut masainya cerita cinta mereka tak menjadikan persahabatan diantara mereka menjadi renggang.
“ inilah kelebihan Desa Rangkat, meskipun banyak intrik dan persoalan di dalamnya tetapi kebersamaan tetap terjaga “ gumamku.

Sambil melangkah menjauh, aku mencoba menggambarkan hubungan di antara warga Rangkat. Kang Inin, Om Garong, Ari Jaka, Ari Ryan….. sementara Sekar, Ningwang, Ajeng, Si Ajen…..belum lagi Aa Kades, Mas RT…..

Tiba tiba…..gubbrrraaaakkkk….. aku menabrak tiang di pos ronda, jatuh kejengkang.

##########



Jakal, 23 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu