Serial Rangkat: Senja Memerah Saat Pos Ronda Berubah Wajah

Sore itu pos ronda Rangkat hiruk pikuk, tak seperti hari biasanya yang sepi. Sesekali hanya Dorma yang rajin mengunjungi. Terkadang bunda Enggar datang, membawa sapu lidi dan kain lap, sekedar membersihkan debu yang selalu hinggap di sudut sudutnya yang asri.

Mas Ibay sibuk membawa sehelai kertas, mencoret coret sesuatu. Mukanya ditekuk, serius sekali. Entah sedang memikirkan apa, tak lama kemudian disodorkannya kertas itu ke bunda Enggar.


senja memerah
lembayung mengintip sudut hati perawan
saat kepak kelelawar mengganti rama rama
surya muram melangkah menuju horizon


kau dimana...???



Rupanya mereka sedang meRANGkai KATa, kegiatan yang selama ini mampu membuat kebersamaan di antara mereka semakin erat. Tak ada lagi sekat antara yang tua dengan yang muda, antara warga lama dengan pendatang, semua luruh menyatu.


kusibak rerumputan kuterjang semak belukar...
serak suaraku titis peluhku...
merabai semesta selami benakku...
tak juga kutemukan...
kau dimana...???

Bunda Enggar hanya sebentar memegang kertas itu, sudah disahut mas Erwin. Rupanya tangannya sudah gatal ingin menuliskan bait bait puisinya yang serasa menggantung di ujung lidah.
“ Erwiiiiinnn, kelakuan deh kamu. Tuh bunda Enggar belum selesai, kau main comot saja…” omel mas Rizal si OM Garong. Padahal sejak tadi dia juga sudah ngebet ingin menulis, cuma malu sama bunda Enggar.


aku disini menunggumu diujung senja...
menunggu pekat kelamnya malam..
kan kuberikan cahaya dalam dinginnya malam..

Tak berapa lama Erwin menyorongkan hasil coretannya pada mas Rizal si Om Ghumi, yang serasa ngiler karena menahan hasrat menulisnya. Maklum, penghuni desa kebanyakan suka menulis, sehingga acara keroyokan begini menjadi favorit sebagian besar warga. Ki Ade, dinda Dorma, jeng Asih dan mas Hariyanto hanya tersenyum senyum melihat tingkah mereka. Kalau berkumpul begini, semua berubah menjadi anak anak lagi, bercanda dan berebutan…. Senangnyaaa.
Haduuuhh, pak Edy yang sedang berjalan jalan sore bersama bunda Yanti, ikut bergabung bersama kami. Di tangannya ada sekantung plastik gorengan yang masih panas mengepul, sementara di belakangnya mommy De Rangkat membawa sebuah ceret besar berisi teh manis. Kang Inin tergopoh gopoh menyusul dengan baki penuh gelas di tangannya.

Semua tertawa gembira, dalam sekejap, hidangan itu telah ludes diserbu. Mereka tak ubahnya rombongan kelaparan yang salah masuk ke toko penganan.

Bang Ibay mendesis kepedasan, jeng Marla yang baru ikut bergabung kebagian secuil pisang goreng hasil rebutan bersama mas Erwin. Pak Edy dan bunda Yanti tergelak gelak, tak menyangka bila warga sangat antusias menyambut bawaannya.


karena malam tak pernah abai menyentuh sukma
menemani lembut halimun, susuri kelok dan liku buana
yang terdiam, kelu berteman bayang bayang
rembulan malu mengintip di sebalik gulungan mendung

Mommy tersenyum. Inilah hasil dari kerja kerasnya selama ini. Sebagai sesepuh dan pendiri desa, saat itu mom berharap warganya bisa rukun, saling mendukung, saling berbagi dan damai selalu mewarnai suasana desa. Itulah yang nampak di pos ronda sore ini, saat udara cerah, lembayung mewarnai angkasa, burung dan harum bunga dari taman rangkat mewangikan suasana pos ronda.

Mas Ibay berdiri, tak sabar menantikan giliran untuk menulis di kertas selembar yang sudah tak karuan bentuknya itu. Dengan lantang diteriakkannya bait bait puisinya. Suara baritonnya yang berat terkadang menggelegar, terkadang melambai seperti AC/DC….

penuh pesona malam berbintang, kududuk termenung rindukan bulan,
wahai angin lembayung terbentang..., adakah rindu pada sang rembulan..?

Seakan tak puas hanya beberapa baris, mas Ibay pun tetap semangat melanjutkan deklamasinya…..


lihat aku dalam relung batinmu
merayap dalam lingkaran benak hasratmu...
terperangkap dalam desah angin timur
rabai aku agar kau tau aku hadir dalam nafasmu
gelegar manja membuat rasa makin bergetar penuh daya
heiii..aku masih disini...dekaplah..dan rasakan peluhku..

Rupanya mas Erwin tak mau kalah, dia bangkit mencoba menyambung kalimat mas Ibay barusan…


basah...hangat...kulit ini mencecapimu..
merdu...sendu...telinga ini menginderaimu...
pesonamu silaukan mataku...
namun mengapa bathinku hampa...
bergetar tak berirama sarat gundah gulana...
hampa...kapankah berwujud nyata...???

Jeng Sekar yang terlambat datang, Ve, dinda Aya, jeng Jingga….semua tergelak gelak. Suasana pos ronda berubah seperti Taman Kawak Kawak alias Taman Tuek Tuek. Tak ada yang perduli, tak ada yang mencoba mengingat umur.


jika jelaga malam lebih membuatmu tenang..
biarkan aku menjadi setitik saja cahaya terang..
walau aku hanya menemanimu sampai datang fajar di ufuk timur...

Sahutan mas Ibay tak kalah kerasnya, sepertinya Toa Masjid Rangkat tak diperlukan lagi. Dengan mimik serius, dia menyambung kalimat Om Garong….


datanglah fajar bersama angin menderu..
untuk sampaikan rindu yang tercangkang...
jangalah kau bimbang untuk datang..
Nodai aku dalam semburat pagimu yang penuh seru...

Kali ini mereka berdua memonopoli kesempatan untuk tampil dalam pilihan diksi yang sempurna. Kehadiran jeng Sekar, jeng Jingga, dinda Aya dan Ve seperti bensin dituangkan ke bara api.

Teduh nian sang manik mata,
menikam lembut bak cakrawala,
mari kita bermain kata,
menggelayut manja pada Cinderella

Belum seluruh bait puisi itu terucap dari bibir sexy mas Ibay, mas Erwin sudah gantian menyahut dengan gaya yang melambai, membuat warga makin terpingkal pingkal dibuatnya.


sungguh ku rindu...
memamah jantungmu meneguk darahmu...
haruskah kulepas ruhku tuk menemuimu...
atau kutumpahkan semua darahku tuk sekedar melihat jejak kakimu...
kan kuberikan semua milikku...
Tapi tolong...jangan kau minta milik tetanggaku...

Di kejauhan, ayahnda Windu berjalan memakai tongkat, mendatangi pos ronda yang telah berubah menjadi panggung opera sabun yang meriah. Wajah beliau sumringah, karena mendapati sebagian besar warga berkumpul di sini.

“ aku boleh ikut bergabung kah ? “ tanya beliau. “ boleeeeehhhhhh “ kami saling sahut menyahut. Lalu seperti dikomando, kami tergelak bersama.

Ayahnda Windu mengangsurkan bungkusan kepada kang Inin, yang segera membuka dan menaruhnya ke dalam piring gorengan yang sudah tak tersisa isinya lagi.

Seakan tak mau melewatkan kesempatan, mas Ibay terus saja nyerocos…..


andai kau mau menggelepar dengan sukmaku
memainkan nada-nada seringai hasratmu..
mengotori seprai tandaskan peluh ragaku..
mencapai nikmat dalam lumatmu..

yang segera disambut Erwin tak kalah lantangnya….


marilah sayang...
kita menari diatas duri...
mendesah diatas resah...
usah hiraukan kutu kutu di rambutmu...
puaskan dahaga kita diatas derita....
Tiba tiba semua terdiam, kelu tanpa kata. Sayup sayup terdengan suara panggilan yang terasa menyejukkan hati, menelusup ke setiap sukma mereka yang hadir. Maghrib telah menjelang, semua segera membereskan peralatan, saling mengucap salam dan berpisah. Jeng Yety berendeng bersama bunda Enggar, diikuti dinda Aya di belakangnya. Sementara ke arah lain, ayahnda Windu berjalan bersama pak Edy dan bunda Yanti.

Tinggallah kang Inin bersama Om Garong, sibuk berdebat dan berantem memperebutkan secuil pisang goreng yang masih tersisa.




Jakal, 26 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu