Erina Mencari Jejak Angin part 7
Tak sia-sia Rahma
meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan berskala nasional saat anak-anaknya
mulai masuk sekolah, dulu. Sebuah pilihan yang sangat sulit, apalagi gaji yang
ia terima setiap bulannya lumayan besar.
Akan tetapi ia memang
harus memilih, bukan? Tetap bekerja mengejar karir dan salary atau mundur dan
memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.
Jujur, saat itu Rahma
tak bisa menentukan pilihan. Posisi mapan yang ia dapatkan setelah bersusah
payah sekian tahun di perusahaan itu harus ditinggalkan begitu saja demi
anak-anak. Rahma bingung sekali. Ternyata tak mudah untuk mengambil keputusan ,
sementara sekolah kedua anaknya tidak bisa menunggu. Ia terjebak dalam
kebimbangan.
“Aku harus gimana, Abi?
Mana yang harus kupilih. Dua-duanya berat untukku?” Rahma memandangi wajah lelakinya dengan penuh harap. Jujur, ia
ingain mendengar apa pendapat suaminya tentang hal ini. Rahma tak ingin salah
langkah dalam menetapkan pilihan.
“Aku tak pernah
memaksamu untuk bekerja, Ma. Terserah padamu, mau terus atau berhenti. Aku
laki-laki, aku yang akan mencukupkan semua kebutuhan keluarga,” jawab Abi
lembut. Jawaban yang tak memuaskan hati Rahma.
Akhirnya ia memutuskan
mengunjungi ibunya. Terbata-bata, Rahma menceritakan masalahnya. Bagaimana
kebingungannya mengambil sikap, keputusan yang sama sama sulit. Seperti buah
simalakama, dua-duanya sama tidak enaknya.
“Kau harus memilih,
Nak,” kata ibunya singkat. “Bukankah hidup itu adalah sebuah pilihan? Tak
mungkin kau bisa memilih dua-duanya. Harus salah satu,” sambungnya lagi.
“Tapi, Bu …,” sergah
Rahma. Tak bisa membayangkan bagaimana caranya bisa melalui masa-masa sulit
itu.
Rahma sadar, tak mudah
mengubah kebiasaan yang sudah demikian lama mendarah daging. Selama ini ia
punya uang sendiri dari hasil jerih
payahnya. Sekarang, ia harus mulai menyesuaikan diri dengan gaji Abi saja.
Betapa beratnya. Belum lagi harus mengubah rutinitas yang sudah bertahun-tahun
dijalaninya.
“Pada awalnya akan
sulit sekali, Nak. Ibu mengerti kekhawatiranmu. Namun, bukankah rejeki itu
sudah ada yang mengatur? Percayalah, tak akan tertukar rejekimu dengan orang
lain,” urai sang ibu panjang lebar. Rahma mengangguk-angguk membenarkan kata
ibunya.
“Yang jelas … kau akan
kehilangan masa emas perkembangan emosional kedua anakmu bila terus bekerja,”
tandas Bu Prapti. “Tak sebanding dengan besarnya gaji yang kau terima. Jangan
sampai, kau menyesal, nantinya.”
Rahma terdiam. Memahami
bahwa semua penjelasan sang ibu ada benarnya.
‘Ibu seperti apakah aku
ini, yang lebih memilih bekerja dan menyerahkan pengasuhan anak-anaknya ke
tangan orang lain?’ Batinnya dengan perasaan nelangsa.
“Percayalah, pada
saatnya nanti, kau akan merasa bahwa pilihanmu itu adalah yang terbaik. Murni
menjadi ibu rumah tangga, mendampingi anak-anak menyelesaikan sekolahnya dan
mengikutii perkembangan jiwa mereka dari waktu ke waktu. Itu mahal harganya,
Nak. Tak terbeli dengan uang seberapa pun banyaknya.” Uraian panjang lebar dari
sang ibu tak terbantahkan, semuanya benar.
Bukankah ibu sudah lebih
dahulu merasakan asam garamnya kehidupan bila dibandingkan dengan dirinya?
~~bersambung~~
Komentar
Posting Komentar