Erina: Mencari Jejak Angin 1


Rahma beranjak dari mesin jahit saat mendengar getaran hape dari ruang tengah. Sebuah pesan pendek nampak di layar. Dari Erina. Tak biasanya dia mengirim pesan seperti itu.

‘Pasti ada sesuatu yang penting,’ gumam Rahma. Tak sabar diraihnya hape dan membuka pesan.

“Mama, aku punya kejutan.” Demikian isinya. Singkat saja. Tak ada kalimat penjelasan yang lain. Membuat Rahma penasaran. Aneh. Tak biasanya Erina berlaku seperti itu. Entah apa sebabnya.

Kegelisahan yang selama ini membebani hati Rahma, semakin terasa menohok perasaan. Hatinya terbelah, beberapa kali pesan pendek yang dikirimnya  tak mendapat jawaban dengan jelas. Hanya acungan jempol yang nampak di layar pesan.

Sampai sesore ini Erina belum juga pulang. Biasanya ia akan memberitahu bila harus mampir ke tempat lain dulu sepulang kerja. Entah, apa ia tak merasakan kekhawatiran ibunya bila ia pulang terlambat? Apalagi tadi ia mulai berteka-teki.

‘Kemana anak ini? Kok belum nampak juga batang hidungnya? Mana mendung tebal gini,’ gumam Rahma.

Ia selalu menghawatirkan anak-anaknya bila hujan turun sementara mereka belum tiba di rumah. Apalagi bila hujan disertai angin kencang. Dalam bayangannya, betapa beratnya menembus hujan lebat saat mengendarai sepeda motor. Tiupan angin akan membuat laju kendaraan tidak stabil, oleng kemana-mana. Meleng sedikit, kecelakaan taruhannya. Hii … Rahma bergidik. Tak bisa membayangkan bila hali itu menimpa mereka, buah hatinya.

Matahari sudah bergulir ke arah barat. Semburat warna jingga mulai mewarnai angkasa. Di penghujung musim hujan seperti sekarang ini, udara demikian gerah terasa. Mendung yang menggelayut di udara semakin menambah panas suasana sore. Hujan memang sudah semakin jarang turun, tetapi kita masih bisa menjumpai mendung sesekali.

Panas terik matahari yang diterima bumi tak bisa leluasa dipantulkan kembali ke angkasa. Mendung menghalangi proses alamiah itu, sehingga rasanya seperti berada di dalam oven –panggangan raksasa. Meskipun Bulan April hampir berakhir, tetapi nampaknya musim penghujan masih enggan beranjak digantikan musim kemarau.

“Gerahnyaa ….” Rahma mengeluh. Keringatnya membanjir, mengalir di kening juga di punggungnya. Hawa di dalam rumah masih terasa panas meskipun jendela dan pintu depan telah dibuka selebar-lebarnya.

Rumah ini terletak di pinggiran kampung. Di seberang rumah dibatasi oleh jalan tanah khas perkampungan terbentang hamparan sawah. Pepohonan di tepi kampung menghasilkan oksigen yang berlimpah untuk paru-paru siapa saja yang berada di daerah ini.

Suasana pedesaan sangat terasa meskipun daerah ini terletak tak jauh dari tengah kota. Udara masih segar terhirup, keramahan dan kehangatan interaksi penduduknya masih akrab terasa. Jauh dari kesan basa-basi.

Setiap pagi, kawanan burung pipit dan burung gereja akan meramaikan suasana dengan hingar-bingar cericitnya. Embun yang menggantung di pucuk bulir-bulir padi menyejukkan pandangan.


*****


Beberapa kali Rahma melongokkan kepala ke arah gerbang depan. Tak ada tanda-tanda kedua anaknya sampai di rumah sebelum hujan turun. Kekhawatiran ini membuatnya gelisah, tak bisa memusatkan konsentrasi sedikit pun.

Seperti inikah suasana hati seorang ibu? Entahlah. Mungkin ibu-ibu yang lain juga merasakan hal yang sama sepertinya. Selalu khawatir setiap kali anak-anaknya belum sampai ke rumah pada waktunya. Padahal mereka sudah dewasa, sudah bisa bertanggung jawab kepada dirinya sendiri.
Seorang ibu tetaplah ibu, bagaimanapun kondisi anak-anaknya.

Kipas angin yang dipasang di dekat tempat Rahma duduk menghadap mesin jahit menderum pelan. Putaran kipasnya sengaja dihadapkan ek arah dinding, agar anginnya tidak langsung mengenai tubuhnya. Rahma tak ingin sakit lagi seperti beberapa minggu yang lalu ketika pasang badan di depan fan yang berputar kencang.

Udara gerah masih tetap terasa menyengat.


~~bersambung~~






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu