Erina Mencari Jejak Angin part 5
Anak gadisnya, yang dia jaga dan sayangi sepenuh
jiwa, harus terluka hatinya karena perpisahan. Pacarnya kedapatan selingkuh
–pacaran lagi dengan gadis lain justru di saat hubungan mereka telah berjalan
bertahun-tahun. Gadis itu dikenal saat di lokasi Kuliah Kerja Nyata. Sedihnya,
cinta yang terjalin itu bukanlah cinta biasa. Asmara penuh kembang –demikian
Erina menyebutnya dengan kesedihan yang mendalam.
“Ia tergoda perempuan lain, Ma,” sedunya saat itu.
Sudah beberapa minggu Rio tidak berkunjung ke rumah seperti biasanya.
Bukankah Kuliah Kerja Nyata yang dijalaninya sudah
selesai bulan lalu?
Pacarnya berpindah ke lain hati, karena upaya dan
usaha metafisika yang tak masuk akal sehat. Guna-guna? Yaah, seperti itulah.
Menurut beberapa kawan dekatnya, Rio berpaling
setelah berkenalan dengan Yessi, anak gadis seorang paranormal yang sering
dimintai tolong mengusir roh atau hantu yang bersemayam di tubuh orang
kesurupan.
Sikap Rio akan berubah linglung kseperti kerbau
dicocok hidungnya setiap kali di kolong termpat tidurnya ditemukan tebaran
bunga setaman. Ia akan melakukan semua perintah Yessi tanpa membantah sedikit
pun. Sikapnya berubah menjadi dingin, tak peduli dan acuh tak acuh. Bukan saja
terhadap Erina, tetapi kepada sahabatnya sendiri pun demikian juga.
Entahlah, kami sekeluarta tak pernah bisa
mempercayai segala hal tentang paranormal seperti itu. Wallahu alam.
“Sudahlah, Nak. Ikhlaskan kepergiannya. Mama tidak
rela kalau Rio berniat kembali padamu,” Rahma menatap lekat. Mencoba mencari
sorot cinta di sinar mata anak gadisnya.
“Kalau pun kau bisa memaafkan kesalahan Rio dan
menerimanya kembali, itu mama hargai … tapiii ….”
Erina memandangi ibunya. Menunggu kelanjutan kalimat
yang digantung itu.
“Peristiwa ini akan menjadi duri dalam kehidupan
rumah tangga kalian nanti. Suatu saat kelak, ketika kalian sedang bertengkar
hebat, lalu … kau ungkit kembali kesalahan yang pernah diperbuatnya ….”
“Maksud Mama?”
“Kau akan teringat kembali betapa sakitnya hatimu
saat dikhianati Rio. Dia juga begitu. Diingatkan pada kesalahan di masa
lalunya. Seolah-olah kau tak memaafkan kesalahannya, tak mempercayainya lagi.”
Gadis itu terdiam. Merenungi kata-kata sang ibu,
sepertinya.
“Itulah kenapa mama tak setuju bila Rio ingin
kembali menjalin cinta denganmu. Ia bukan jodoh yang tepat untukmu, Nak.” Rahma
mengelus rambut Erina yang hitam lebat.
~~bersambung~~
Komentar
Posting Komentar