Erina Mencari Jejak Angin part 6
Rahma turun ke halaman,
menyalami rombongan tetangga yang tengah melintas. Sebuah kebiasaan yang hampir
ditinggalkan oleh mereka yang menyebut dirinya modern. Kami yang tinggal di
kampung masih meneruskan kebiasaan ini setiap kali ada tetangga yang lewat di
depan rumah. Saling menyapa, bertanya kabar atau tujuan dan bincang remeh temeh
lainnya.
“Memangnya Erina sudah
mau menikah, yaa, Bu?” Bu Pradopo mengulang pertanyaannya kembali.
“Sudah waktunya Bu Mia
momong cucu, lho. Lihat, ibu-ibu yang sepantaran sudah punya cucu semua. Hanya
Bu Mia yang belum,” sambungnya setengah berbisik.
“Belum, kok, Bu. Masih
mau dolan, katanya,” jawab Rahma. Sekilas ia melirik ke arah Erina yang duduk
membeku di kursinya.
“Aduuh, kok malah ngobrol
di sini. Hayuu, Bu. Saya permisi dulu. Sudah sore, takutnya mengganggu. Tuuh,
jahitannya nanti malah nggak rampung ….” Bu Pradoppo pamit sambil menjabat
tangan Rahma.
“Nggak, kok. Saya malah
senang. Apalagi kalau berkenan singgah, saya tambah senang,” jawab perempuan
itu. Tangannya terulur menyambut jabat erat tetangganya.
“Terima kasih, Bu Mia.
Lain kali saja. Mariii ….” Mereka berlalu dengan senyum yang tersungging di
bibir.
Daun genjer yang mereka
bawa masih meneteskan air , meninggalkan alur basah di sepanjang jalan. Rupanya
rombongan ibu tadi baru saja mencarinya di persawahan yang terletak di ujung
desa.
Aah, sederhananya hidup
mereka. Berbagai sayuran yang bisa dimakan sehari-hari tersedia melimpah.
Pepaya, nangka muda, daun singkong, daun genjer, daun melinjo … tinggal petik
saja. Sudah menjadi kebiasaan di antara sesama warga untuk saling berbagi apa
yang mereka punya. Rasa gotong-royong yang masih subur terpelihara hingga saat
ini.
*****
Rahma melihat Erina
tengah membuka-buka bendel yang tadi ditunjukkan padanya. Mulutnya bergumam
membaca beberapa berkas yang harus segera diisi dan diserahkan kembali ke
kantor. Perempuan itu mengacak-acak poni anak gadisnya yang basah. Rambut Erina
hitam lebat, sama seperti milik neneknya.
Melihat betapa gembiranya
Erina, ibu dua anak itu pun ikut merasa senang. Betapa tidak, kalau bukan
karena mendapatkan bonus dari perusahaan, mana mungkin ia punya kesempatan
terbang dan melanglang ke negeri Singa?
Bisa membiayai kuliah
Erina hingga lulus kuliah pun, sudah anugerah yang luar biasa bagi keluarga Abi
dan Rahma. Apalagi bisa bepergian ke luar negeri, mungkin mereka hanya bisa
berangan-angan belaka.
*****
Erina tumbuh dan
berkembang sesuai arahan dan harapan yang diberikan sejak ia masih kecil.
Sebagai anak sulung, mereka mendidiknya agar bisa menjadi contoh yang baik
untuk adiknya. Belajar bertanggung jawab, belajar berbagi, saling mengasihi
satu sama lain.
Mungkin karena Erina
seorang anak perempuan, ia senang sekali saat ikut dilibatkan dalam merawat
adiknya. Mengambilkan popok, menyiapkan bedak, minyak telon dan mengulurkan
botol susu. Ia betah berlama-lama berdisi di samping meja, memperhatikan ibunya
memakaikan baju dan popok adiknya. Erina suka sekali menyentuh rambut Yudha
yang disisir model potongan Mohawk –cara menyisir rambut dari arah kiri dan
kanan lalu menjadi jambul di puncak kepala.
“Adik lucu, yaa, Maa
…,” celotehnya.
Ia bahkan sudah bisa
mengurus dirinya sendiri saat ibunya sibuk dengan si kecil. Berganti pakaian
sendiri, menyiapkan seragam sekolah, sarapan tanpa disuapi seperti biasanya.
“Erin kakak yang baik,
kan?”
Tak lupa Rahma tekankan
pengertian agar ia selalu rukun dengan satu-satunya saudara yang dimiliki.
Siapa lagi yang akan dimintai tolong nanti saat ia sedang butuh bantuan, kalau bukan
adiknya? Setidaknya mereka akan terbiasa menyelesaikan masalah yang timbul di
antara keduanya dengan musyawarah dan kasih sayang.
“Erina, tak baik selalu
bertengkar dengan adikmu. Kalian, lho, cuma dua bersaudara. Suatu saat kelak,
kau akan membutuhkannya,” demikian nasehat yang sering diberikan Abi, saat
kakak beradik itu bertengkar memperebutkan sesuatu.
“Papa selalu membela
adik,” gerutunya sebal.
Usia mereka terpaut
hampir enam tahun, tetapi Rahma dan Abi selalu berusaha memberikan hal yang
sama kepada keduanya. Saat masih kecil dulu, ia selalu memberikan jenis dan
jumlah jajanan yang sama. Hal itu Rahma lakukan agar mereka, anak-anaknya
merasa dan mengerti bila ayah ibunya bertindak adil. Sebuah alasan yang tak
selamanya benar. Bukankah adil itu bila seseorang mendapatkan sesuatu yang
sesuai dengan porsinya, sesuai kebutuhannya?
Saat sedang berbelanja
di minimarket, dua kakak beradik itu selalu dibebaskan untuk memilih sendiri
camilan yang diinginkan.
“Ingat kata mama di
rumah, tadi? Kalian boleh memilih sesukamu … tapiii ….”
“Tidak boleh
banyak-banyaaak,” jawab mereka kompak. Beberapa pengunjung menoleh ke arah
mereka. Keheranan tampak terbaca dari cara mereka menatap. Biarlah. Rahma tak
peduli apa kata orang tentang sikapnya. Ini didikan yang ia pilih untuk buah
hatinya.
Tak banyak yang tahu,
Rahma selalu mengajak bicara kedua buah hatinya sebelum mengajak mereka pergi
berbelanja bulanan. Ia menjelaskan kebutuhan yang harus dibeli, uang yang
tersedia untuk belanja, dan berapa rupiah jatah anak-anaknya untuk membeli
camilan yang disukai.
Abi selalu memprotes
tindakan Rahma.
“Aku kerja keras
banting tulang untuk mereka. Kok, sekarang malah dilarang-larang saat mau
jajan?” tanyanya.
“Jangan dibiasakan
boros. Mereka harus mengerti caranya menghargai uang yang diperoleh dengan
susah payah,” urai Rahma panjang lebar.
Kebutuhan Erina
danYudha tak mesti sama. Dalam hal susu, misalnya. Yudha membutuhkan lebih
banyak dibandingkan Erina. Rahma selalu berusaha membagi apapun yang dipunyai
sama rata. Biarlah nanti, bila mereka sudah agak besar, pelan-pelan akan
diberikannya pengertian. Apa artinya kasih sayang yang adil dari kedua
orangtuanya.
Hingga akhirnya Erina
tumbuh menjadi anak yang penurut dan penuh kasih sayang. Berdua dengan adik
laki-lakinya, mereka menjadi pusat perhatian Rahma dan Abi.
~~bersambung~~
Komentar
Posting Komentar