Erina: Mencari Jejak Angin 2
Gara-gara itu pulalah,
Abi jadi marah.
“Sudah diberi tahu,
jangan duduk di depan kipas angin,” gerutunya.
Saat itu ia tengah
mengganti bajunya yang basah oleh keringat lalu bersiap-siap mengantar Rahma ke
tukang pijat langganan. Perempuan itu menurut saja saat digandeng menuju ke
mobil. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, pandangan mata berputar-putar dan
kaki terasa lemas sekali. Sambil menyeringai menahan sakit, Rahma duduk manis
di sebelah Abi, suaminya.
“Lain kali kalau masih
mau menghidupkan kipas angin, hadapkan ke arah tembok saja. Anginnya tidak
langsung menerpamu, hanya pantulan dari dinding,” kata lelaki itu. Pandangan
matanya tetap mengarah ke depan. Lalu lintas sedang lumayan padat kala itu.
Rahma mengangguk, sambil
mengaduh. Rasanya seperti ada beribu jarum yang menusuk-nusuk tulang
belikatnya. Apalagi sudah dua hari ia tak bisa menoleh. Kalau mau menengok ke
belakang, ia harus memutar seluruh badan. Seandainya tetap memaksa, maka nyeri
yang hebat akan terasa di punggungnya juga di tengkuk.
“Sabar, yaa. Ini hampir
sampai ke rumah Ibu Atun. Masih kuat menahan sakit, kan? Nggak lama lagi, kok,”
katanya lagi. Kali ini Abi menoleh ke arah kiri, di mana Rahma duduk anteng.
Perempuan itu tak
menjawab. Ia pun seolah tak ingin mengangguk seperti tadi, sebab, sedikit
gerakan badan saja sudah membuatnya mengerenyit menahan sakit. Rahma menyentuh
perlahan tangan kiri Abi yang memegang kemudi. Lelaki itu membalas dengan
menumpangkan tangan kanan di atasnya.
Jadilah, hari itu Rahma
menjadi pasien tukang pijat langganan. Kurang lebih dua jam tubuhnya dipijat,
dibalur dengan minyak gondopuro yang dicampur dengan minyak kayu putih. Yang
terakhir, dan paling disukai perempuan itu, Bu Atun mengeroki punggungnya.
“Sakit Buuu …,” erang
Rahma sambil menggeliat, berusaha menahan gerakan uang coin di tangan Bu Atun
yang maju mundur.
“Ini sampai merah hitam
begini, Jeng … masuk angin kasep –terlambat- ini,” jawab Bu Atun tanpa
menghentikan gerakan tangannya.
Sekujur punggung Rahma
dipenuhi bilur-bilur merah bekas kerokan. Tak terkecuali tengkuk dan lengan
bagian atas.
“Naah … sudah selesai.
Gimana, sudah enteng sekarang? Sudah enakan, tho?” tanya Bu Atun. Tangannya
cekatan membereskan peralatan pijatnya.
“Sudah, Bu. Sudah
lumayan, bisa menengok tanpa nyeri,” sahut Rahma. Ia menggerak-gerakkan badan
memutar ke kiri dan ke kanan dalam posisi duduk di tempat tidur. Tidak terasa
sakit lagi.
Rahma segera mengenakan
baju yang tadi tergantung di kapstock, lalu mengekor di belakang Bu Atun menuju
ke ruang depan.
“Ini buat beli minyak
gosok, Bu. Sekadarnya ….” Rahma mengangsurkan amplop yang sudah disiapkan sejak
dari rumah ke telapak tangannya. Bu Atun sumringah menerimanya, sambil menjabat
tangan Rahma erat. Jabat tangan yang khas dari seorang yang mudah akrab.
Ia akan menggenggam
tangan siapapun yang dijabatnya, menggoyangkannya dua kali lalu melepaskannya,
mantap. Konon, kata orang, kita bisa menilai bagaimana sifat seseorang itu dari
gaya –caranya- berjabat tangan. Benarkah?
Wallahu alam.
Rahma celingak celinguk
di ujung gang, tak nampak bayang-bayang Abi di sana. Ke mana dia?
“Bi, aku sudah selesai.
Abi menunggu di mana?” akhirnya Rahma meneleponnya, sejak tadi ia tak tampak di
tempat biasanya menunggu istrinya kalau sedang dipijat.
“oh, eeh … yaa. Lagi di
warung, ini. Tunggu sebentar ….”
Tak berapa lama,
laki-laki itu muncul sambil menenteng kantong plastik. Entah apa isinya, Rahma
tak tahu.
“Ini buat Bu Atun.
Hujan hujan begini, enak kalau menyantap bakso panas.” Abi mengulurkan kantong
plastik itu.
“Ooh, Maas. Nggak usah
repot-tepot. Ini … aduuh, terima kasih. Maaf lhoo, udah mau direpotin.” Bu Atun
sungkan menerima pemberian Rahma.
Sambil
terbungkuk-bungkuk, berulangkali ia mengucapkan terima kasih. Sebuah ungkapan
yang tulus, sederhana dan tak dibuat-buat.
~~bersambung~~
~~OOOO~~
Komentar
Posting Komentar