Erina Mencari Jejak Angin par 4


Bersama ini kami beritahukan bahwa Saudara Erina beserta seluruh anggota divisi telah berhasil memenuhi target produksi seperti yang telah ditetapkan oleh perusahaan periode tahun gasal.’ Rahma menoleh ke arah Erina, yang mengangguk mengiyakan.

‘Oleh karena itu, yang bersangkutan berhak mendapatkan bonus pencapaian yang sudah dijanjikan.  Saudara Erina akan mengikuti weekly tour ke Singapura selama empat hari tiga malam.’

Erina tersenyum melihat ibunya membelalakkan mata tak percaya pada apa yang dilihat.

‘Untuk memudahkan pengurusan administrasi, dimohon agar blangko yang ada dalam lampiran surat ini bisa segera diisi dan diserahkan ke Bagian Personalia.’ Rahma membaca deretan kalimat di kertas itu secepat ia bisa.

Konsentrasi Rahma agak terganggu dengan jerit kegembiraan dan jingkrak kegirangan Erina. Ia mengelillingi ibunya sambil menyenandungkan sepotong lagu yang tidak jelas judulnya dan siapa yang menyanyikannya. Lebih lucu lagi, suaranya blero –sumbang-- tidak karuan. Pitch contol-nya kedodoran tidak pas pada nada.

“Singapuraa … Singapuraa ….” Jogednya. Kocak. Ia bahkan tidak peduli ketika ibu-ibu tetangga menoleh ke arahnya. Mereka mungkin heran, tak biasanya Erina bertingkah seperti itu.

“Erina kenapa, Bu? Kok sepertinya girang banget?” Bu Pradopo bertanya heran.

“Oalaah … kirain ada apa. Apa sudah mau dilamar?” sambung Bu Tuti. Keingintahuannya jelas tergambat dalam nada suaranya.

Rahma terdiam. Pertanyaan seperti ini sudah sering kali didengarnya dari keluarga besar, baik dari Abi maupun darinya sendiri. Apalagi lingkungan sekitar. Perih terasa mengiris di hatinya. Ingat bagaimana terlukanya hati Erina saat putus dari kekasihnya, dulu.


~~bersambung~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu