Erina Mencari Jejak Angin part 3



Setelah berpamitan, Abi menggandeng Rahma masuk ke mobil. Tak sampai duapuluh menit berkendara, kami sudah sampai di rumah lagi.

Rahma mendapati Erina sedang duduk menggelosot di lantai, mukanya masam.

“Heeh, anak gadis … nggak baik manyun sore-sore.” Abi sengaja menggoda anak gadisnya. Ia menowel pipi yang masih basah oleh keringat itu dengan gemas.

“Kemana aja siih, kok dikunciin … keburu harus, nii.” Gerutunya.

“Bukannya kau bawa kunci sendiri?” tanya Rahma keheranan.

“Enggak. Tadi pagi terburu-buru berangkat,” jawab Erina.

“Salah sendiri …,” jawab Abi sambil berlari menjauh. Tangan Erina sudah teracung, siap-siap mencubit ayahnya yang sejak tadi menggoda.


*****


Gaun biru tosca yang dijahit Rahma sejak dua hari lalu belum selesai dikerjakan. Entah kenapa, kali ini ia sulit sekali berkonsentrasi. Biasanya perempuan itu mengerjakan jahitan gaun dalam sehari, tapi kali ini? Ada sesuatu yang membebani pikirannya akhir-akhir ini, tapi apa?

“Maaa … Maa ….” Suara nyaring, melengking, seperti anak kijang yang sedang berloncatan riang di taman kota menandakan kegembiraan di hatinya, terdengar memecah kesunyian. Erina.

Di kejauhan terlihat anak gadis Rahma melambai-lambaikan sebendel kertas sambil berlari-lari ke arah ibunya. Tas selempangnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Derap kakinya seolah-olah hendak meruntuhkan dinding rumah. Walaupun sudah lulus kuliah dan bekerja, tetapi tingkah Erina masih seperti anak kecil saja bila sudah di rumah.

Sangat jauh berbeda tingkahnya bila sedang berada di kantor. Ia tampil sangat dewasa, bertanggung jawab dan dapat diandalkan oleh teman-temannya.

“Maa … aku terpilih … aku ikut dikirim ke Singapura,” jeritnya kegirangan.

“Ini … ini surat pemberitahuan dari kantor yang kuterima siang tadi.” Penuh semangat ditunjukkannya bendel surat itu ke hadapan ibunya. Matanya bersinar-sinar, senyumnya mengembang memperlihatkan lesung pipi.

“Ini kejutan yang kau maksudkan siang tadi?” Erina mengangguk cepat-cepat.

Rahma menoleh, wajah Erina nampak memerah karena kepanasan. Butir keringat berlelehan di keningnya. Anak-anak rambut lengket di tengkuk yang basah. Entah dari mana ia mulai berlari-lari tadi, biasanya ia akan melangkah dengan tenang saat memasuki halaman, tidak terburu-buru seperti itu.

“Kau pulang dengan siapa? Trus … sepeda motormu, mana?” tanya Rahma khawatir. Bukankah tadi pagi dia pergi mengendarai sepeda motor?

“Aduuhh … lupa, Ma. Tadi aku keluar sama Rinto, lalu sekalian diantar pulang. Yaah, ketinggalan, deh,” jawabnya

“Bentar. Aku telepon Pak Jarwo dulu. Biar motornya di masukkan ke garasi.”

Sesaat, Erina mencoba mengatur napasnya, dadanya kembang kempis turun naik tak beraturan. Ia terlalu gembira rupanya, hingga melupakan kebiasaannya bila pulang ke rumah. Ia sibuk memencet tombol di hapenya, lalu terdengar suara meminta tolong pada penjaga malam di kantor dengan lembut.

“Terima kasih, yaa, Pak. Maaf sudah merepotkan.”

Sejak kecil mereka dibiasakan untuk berkata lembut dan santun saat meminta tolong. Juga ucapan maaf dan terima kasih, kepada siapapun itu setiap kali selesai melakukan sesuatu. Entah itu tukang parkir, Pak Ogah di putaran jalan, tukang koran ….

Penghargaan terhadap hasil kerja seseorang tidak harus diwujudkan dalam bentuk materi, bukan? Ucapan yang tulus dari hati, senyum yang tidak dibuat-buat sudah menjaadi pengobat lelah mereka. Hal yang mudah dilakukan, namun ternyata belum semua orang ikhlas menjalankannya.

Rahma menyodorkan air dingin, yang segera ditenggak habis oleh anak gadisnya.

“Kebiasaan … Pelan-pelan minumnya. Ingat apa kata pak ustaz tempo hari? Minum itu tiga teguk, ambil napas sebentar, lalu minum lagi tiga teguk. Ambil napas lagi, nggak baik terburu-buru begitu. Nanti tersedak.”

“Haus banget, Ma.” Erina menjawab sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Ia pun terbatuk-batuk.

“Naah … apa kata mama. Baru juga dibilangin,” sahut Rahma geli.

Erina masih terbungkuk-bungkuk sambil berdehem, berusaha mengeluarkan air yang salah masuk ke saluran pernapasannya.

“Makanya, siapa suruh kau lari-lari macam kijang lepas dari kandang begitu?”

“Erin ingin segera beritahu Mama,” katanya jenaka. Dipamerkannya senyum termanis, meski keringat masih berlelehan di keningnya.

Bundel itu diletakkannya di atas gaun sedang dijahitnya. “Mama harus baca yang ini.” Telunjuk Erina mengarahkan pandangan ibunya pada bagian tengah surat pemberitahuan itu. Mata Rahma mengikuti arah jarinya.


~~bersambung~~




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu