Padhat Saben

Padhat Saben

••••

Dari celah pintu kamar ibu yang tak tertutup sempurna, Lenang mendengar suara isak yang samar. Seperti orang batuk yang disembunyikan dalam bekapan kedua tangan.

Ibu menangis. Lagi.

Lenang menghela napas, ragu-ragu antara menghindar atau tetap di tempatnya. Namun, akhirnya ia memilih mendorong pintu agar membuka lebih lebar.
Ibu menoleh, wajahnya basah oleh sisa air mata yang belum selesai diusapnya. Ujung selendang tergantung di jemari tangannya.

"Le, ada apa?"

"Harusnya aku yang bertanya, Bu. Ada apa?"

Dada ibu terlihat naik turun, seolah ada beban berat yang menimpanya.

"Ayah, berulah lagi?"
Pelan, kepala itu mengangguk. Membenarkan dugaan Lenang selama ini.

"Dulu, ibu mengabaikan pesan eyang kakungmu, Le. Ayah pernah berkata, pria yang pernah selingkuh, suatu ketika akan tergoda untuk mengulanginya lagi. Bahkan berulang. Padhat saben mesthi ngono ...."
Ada bom yang serasa meledak di dalam dada Lenang. Jadi, ini bukan hanya sekali atau dua kali?

"Kenapa ... Ibu masih bertahan?" Susah payah Lenang mengajukan pertanyaan itu, meskipun tahu bila akan menyakiti hati ibu.

"Ibu harus konsekuen dengan pilihan ibu. Bagaimanapun, ayah adalah lelaki yang ibu cintai walaupun eyang kakung tidak setuju."

"Apa tidak sebaiknya Ibu tinggalkan saja? Makin hari, Ibu makin tersiksa."
Lenang mengajukan syarat, melihat ibunya masih saja kukuh mendampingi.
Ibu tersenyum. Sesekali mengusap air mata yang masih berlelehan di pipinya.

"Selama Ibu masih kuat menahan, Ibu akan menerima ini sebagai takdir."
Ia mengelus rambut anak lelakinya penuh sayang.

"Nanti, engkau akan tahu alasannya, kenapa ibu memilih seperti ini, Le."
Sampai hari ini, Lenang masih belum bisa menerima alasan ibu.

••••

Empatbelas tahun yang lalu ....

"Jauhi Damar, Winar. Dia bukan lelaki baik untukmu!"
Suara menggelegar itu hampir saja merontokkan jantung Winar, yang terduduk menahan isak.

"Paak ... Winar mencintainya. Rasanya tak sanggup bila harus berpisah."

"Tapi dia menghianatimu, Winar. Coba, terbuat dari apakah hatimu itu? Batu? Atau apa?"

"Winar akan memaafkannya, Pak. Mungkin, Mas Damar sedang khilaf. Iaa ... ia sedang terjebak pada cinta semu."

"Justru kau itu yang terjebak!" Pak Hilman tak dapat menyembunyikan jengkel dalam nada suaranya. Ia tak habis pikir, dikemanakan perasaan anak gadisnya ini. Ia ... telah dibutakan cinta.

••

"Ayah akan menikahkan dengan lelaki pilihanmu, dengan satu syarat." Akhirnya laki-laki itu pun menyerah. Kalah oleh kekeraskepalaan anak gadis yang sangat disayanginya.
Winar tersenyum bahagia. Impiannya terkabul sudah.

••••

"Bu ... Lenang tak habis mengerti. Bagaimana bisa Ibu tetap mencintainya, sampai sekarang? Ibu bilang, ini sudah ke-sekian kalinya."
Perempuan itu tersenyum samar. Menyadari, anak lelakinya belum sepenuhnya paham apa arti cinta dan penghambaan yang diyakininya.

"Ibu berharap, kau bisa belajar banyak dari kisah ini. Restu orangtua itu tetap perlu, seberapa pun kau ingin menikahi seorang perempuan. Ibu sudah salah melangkah. Tetap menikah meskipun eyang kakung menolaknya," suara itu tercekat di tenggorokan.

"Namun, ibu harus tetap di posisi ini, kan, Le? Ini jalan hidup yang sudah ibu pilih sendiri. Apapun, ibu harus tetap jalani. Susah senang ...."
Lenang mengangguk, walau belum paham dengan maksud perkataan ibunya.

Note:
- padhat saben: setiap kali
- mesthi ngono: selalu begitu

Yogyakarta, 1 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu