Andai Aku Bisa Sepertimu Ibu

Tak bisa kubayangkan seandainya aku dilahirkan bukan oleh ibuku sekarang. Kenapa ? Karena aku merasa sangat beruntung memiliki ibu seperti beliau. Meski sejak kecil aku jarang mendapat pelukan, elusan sayang di rambut bila aku sedang sedih, susah ataupun berprestasi. Tak ada sentuhan lembut yang menandakan betapa ibu sangat menyayangiku.Aku tak ingat lagi sejak kapan ibu tak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepada kami anak anaknya dengan sentuhan dan pelukan. Yang masih teringat adalah kemarahan beliau bila kami berbuat salah ataupun melanggar aturan.
Ibu dan ayah adalah pegawai negeri dengan gaji yang pas buat makan dan biaya sekolah kami berempat. Jangankan bisa berekreasi ke tempat wisata, beli baju barupun bisa dihitung dengan jari. Kami hanya mendapatkan baju baru bila hari Lebaran tiba. Waktu kami masih kecil, terkadang ibu merombak daster ataupun sarung ayah untuk rok dan celana pendek kami. Menu makanan harianpun sederhana. Telur dadar setipis kertas, sayur lodeh, sayur bobor bayam dengan irisan pepaya muda, paling mewah bila ayam peliharaan ayah kami sedang menunjukkan tanda tanda sakit, ibu akan meminta ayah memotongnya. Itulah saat kami bisa makan enak, gulai ayam peliharaan sendiri.
Tetapi pengalaman masa kecil kami memperkaya batin kami, betapa seorang ibu harus pandai berhemat dan mengatur keuangan rumah tangga. Meskipun sibuk, tetapi ibu masih punya waktu untuk memberikan les tambahan pada anak tetangga, sibuk berorganisasi ke sana ke mari, tanpa melupakan tugasnya mengurus rumah tangga.
Tentu saja kami anak anaknya tak bisa ongkang ongkang begitu saja. Si sulung mendapat tugas menimba air untuk mengisi bak mandi, nomor dua menyapu halaman, nomor tiga membuka jendela dan memberi makan ayam sementara si bungsu masih belum mendapat bagian pekerjaan apa apa. Maklum, beda usia yang lumayan jauh menyebabkan si bungsu mendapatkan kemanjaan yang berlebih dibanding saudara saudaranya yang lain.

---000---

Kami empat bersaudara sangat senang bila hujan turun. Dengan sembunyi sembunyi kami akan meloloskan diri dari rumah untuk bergabung dengan teman teman. Sambil bermandi hujan, kami akan membuat bendungan dari gundukan tanah atau pasir di gang belakang rumah, sehingga air menjadi tergenang. Air itulah yang kemudian menjadi bahan permainan kami. Dengan riangnya kami saling menyipratkan air ke muka teman dan merekapun akan melakukan hal yang sama. Setelah puas bermain main, kami akan mengendap endap pulang ke rumah langsung ke kamar mandi. Letaknya memang di samping rumah yang tembus ke luar, jadi kami bisa leluasa mandi tanpa menyebabkan rumah menjadi basah karenanya.
Di depan pintu penghubung ibu sudah menunggu. Tak jarang kami mendapatkan pukulan atau cubitan di paha bila kami melanggar larangan beliau untuk bermain air hujan. Biru lebam bekas cubitan itu baru akan hilang seminggu kemudian. Tetapi kami tak pernah menghiraukan rasa sakit akibat cubitan itu. Belakangan baru kami sadar dan kami tahu alasan ibu melarang kami bermain air hujan. Gang belakang rumah sering dilewati oleh andong yang hilir mudik mengantar penumpang ke pasar. Tak jarang sang kuda membuang hajat di gang itu sehingga ibu khawatir kami akan kena tetanus bila bermain tanah maupun air di gang itu. Maafkan kami ibu....

---000---

Kini, seiring dengan perkembangan usia, aku jadi mengerti mengapa dahulu ibu melakukan hal yang menurutku sangat mengekang dan membebani. Terutama aku, yang diharuskan bisa memasak meskipun sayur sederhana seperti oseng/tumis, bening bayam, sayur asem, sambal, sayur lodeh, sayur bobor dan beberapa jenis sayur yang mudah dihafal jenis bumbunya. Aku sering sekali merajuk karena dengan membantu ibu di dapur, aku tak bisa ikut bermain bersama teman temanku di gang belakang rumah. Meskipun bila sudah selesai memasak, akupun masih bisa bermain dengan mereka, tetapi terkadang aku iri mendengar jerit dan gelak tawa yang terdengar sampai ke dapur. Aku masih harus berkutat dengan peralatan dapur dan mencucinya sebelum diperbolehkan bergabung dengan teman teman.
Aku menyadari bahwa itulah cara ibu mendidikku tanpa banyak biaya dan kata kata. Hal itu kusadari setelah aku melanjutkan sekolah di kota dan harus indekost. Rupanya dahulu ibu telah mempersiapkan aku untuk bisa mandiri dengan membekaliku kemampuan memasak yang sederhana sehingga tak perlu takut kelaparan ketika indekost di kota.
Kemampuan memasakkupun tambah teruji ketika aku menikah dan memutuskan untuk mandiri. Betul betul kusadari betapa bijaksananya ibu ketika itu. Aku yang biasa membantunya di dapur dengan cemberut dan bersungut sungut, akan tetapi sekarang bisa merasakan hikmah betapa ibu sangat menyayangiku dengan caranya sendiri. Ibu tak pernah memanjakanku dengan limpahan harta ataupun kebebasan seperti teman temanku. Ibu tak pernah menyayangiku dengan selalu memeluk ataupun membelaiku setiap kali aku berprestasi. Tetapi ibu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya dengan memberiku berbagai pendidikan yang ternyata sangat berguna setelah aku dewasa dan berumah tangga.

---000---

Dapatkah kau bayangkan bagaimana aku menuliskan semua kisah ini tanpa berurai air mata ? yaah, aku membawa se kotak tissue, setiap kali selesai satu kalimat kutuliskan, setiap kali pula kuhapus deraian air mataku. Andai saja waktu itu aku menyadari bahwa ini cara ibu mempersiapkanku menghadapi masa depan, tentu aku akan dengan senang hati menuruti semua anjurannya, semua kata katanya dan semua aturan yang diterapkannya padaku, juga kami anak anaknya.
Hingga kini ibu tak pernah lelah mendoakan kami, anak dan cucu cucunya. Ibu masih rajin bangun tengah malam untuk menunaikan sholat tahajud. Terkadang bila sedang menginap di rumah ibu, aku ikut terbangun mendengar lamat lamat tangisan beliau saat mengadu pada Allah. Sampai di usia senjanya ibu tetap tak bisa berhenti memikirkan kami. Apalagi setelah ayah meninggal, ibu mempunyai banyak sekali waktu luang yang dipergunakannya untuk beribadah dan kegiatan sosial. Ibu masih sibuk mendoakan cucu sulungnya agar lulus kuliah, mendoakan anakku agar segera mendapatkan pekerjaan, mendoakan anak adikku agar segera selesai skripsinya, juga membimbing dan mendidik anak anak dari adik bungsuku yang tinggal serumah. Ibu tak pernah lelah melakukan semuanya. Bola matanya akan bersinar sinar bila mendengar khabar anak atau cucunya mendapatkan keberhasilan. Wajahnya akan bercahaya bila cucunya menyambangi sekedar menanyakan kesehatannya.
Ah ibu, seandainya aku bisa sesabar engkau. Seandainya aku bisa se bijaksana engkau. Selama ini aku belum bisa mengikuti apa yang kau lakukan setiap harinya. Aku tak bisa sering sering menengokmu, menemanimu melewatkan hari yang panjang. Aku tak bisa mengantarmu ke mana mana bila ingin bepergian. Aku belum bisa mengikuti jejakmu, menjadi panutan di lingkungan tempat tinggalmu.

---000---

Kini kedua anakku sudah beranjak dewasa, kepribadian mereka sedikit banyak diwarnai oleh pandangan hidup dan nasehat nasehat yang sering diberikan ibu kepada mereka saat mengunjungi beliau. Bagaimana caranya berhemat, membagi waktu dengan baik, berpandangan luas, hormat dan taat pada orang tua, rajin menjalankan perintah agama dll. Aku akan mengantar mereka memasuki gerbang masa depan mereka dengan membekali ilmu yang mereka butuhkan, yang mereka tentukan sendiri sesuai keinginannya.
Bila kami mengunjungi ibu, wajah itu akan berseri bahagia, binar matanya menyiratkan kepuasan melihat kami. Tentu saja moment ini tak pernah dilewatkan ibu dengan nasehat, dan cerita panjang pendek yang tak ketahuan ujung pangkalnya yang terkadang di ulang ulang di beberapa kesempatan. Kami memakluminya, kemampuan berpikir ibu sudah mulai dimakan usia lanjut.
Meskipun masih ada satu keinginanku yang belum bisa terlaksana. Aku ingin memboyong ibu untuk tinggal bersamaku. Meskipun se rumah dengan adik bungsuku, tetapi ibu sering merasa kesepian. Maklum, adikku juga punya kesibukan sendiri, terkadang lupa menyapa ibu. Kalaupun harus pergi ke luar rumah, ibu harus menahan sabarnya hingga adikku siap mengantar kemana tujuan ibu. Hal inilah yang kadang kadang membuat ibu marah karena tidak sabar menunggu. Tetapi sebagaimana orang tua yang lainnya, ibu akan menolak usulku. Ibu merasa dibutuhkan di lingkungan rumahnya sendiri sementara di rumahku ibu tak punya kenalan, tak punya kegiatan dan merasa menjadi beban. Sungguh ibu, aku tak pernah merasa ibu membebani aku. Bahkan seluruh hartaku, seluruh hidupku, seluruh nyawaku takkan cukup membalas semua jasa ibu kepadaku.
Aku merasa belum menjadi anak yang bisa dibanggakan ibu, belum bisa membahagiakannya.

---000---

Aku menyayangimu ibu. Bagaimana harus kutuliskan semua perasaanku tentangmu bila air mataku selalu berderai ? betapa berterimakasihnya aku, karena aku bisa seperti ini karena tangan dinginmu. Caramu menunjukkan kasih sayang bukan seperti yang kuimpikan. Caramu mempersiapkan anak anakmu menghadapi masa depan bukan dengan mengikutkan kursus yang mahal ataupun les yang tak terjangkau. Mungkin karena kita dari keluarga yang ekonomi sedang, sehingga membuatmu harus pandai mengatur keuangan dengan tetap memberikan pendidikan terbaik untuk anak anakmu. Dan ternyata itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh kami, tanpa kursus mahal, tanpa les pun kami bisa melalui pelajaran tentang kehidupan hingga sekarang ini.
Ibu, bagaimanakah harus kulalui hidupku bila tak kau persiapkan aku sebaik ini ?



Jakal,28 Maret 2012


---000---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu