Jangan Panggil Aku Andri

Aku mengenalnya saat menubrukku di tempat parkir, ketika tergesa gesa mengejar temannya yang membawa kamus bahasa Perancisnya. Jangkung, murah senyum, ramah dan matanya tajam bagai mata elang. Raut wajahnya keras, dengan rahang kukuh dan kulit kecoklatan.

“ eehh maaf.. maaf... aku ga melihatmu tadi.. maaf yaa... ini bukumu... maaf aku buru buru....” gugup sekali dia. Disodorkannya tumpukan bukuku yang berantakan karena senggolannya tadi.
 “ aku Andri....” tangannya terulur, senyumnya mengembang. Matanya bersinar sinar jenaka.
“ Nin “ kusambut uluran tangannya.
“ tapi maaf, saya buru buru. Aku duluan yaa.. bye “ Andri pun berlalu, sebelum kami sempat bertukar nomor telepon.

***

Tumpukan buku yang kupinjam dari perpustakaan belum sempat kubereskan. Hari ini aku lelah sekali. Kuliah dari pagi hingga sore benar benar menguras tenagaku. Kuhempaskan badanku ke tempat tidur.
Aku belum benar benar tertidur ketika kudengar ketukan di pintu kamar kost ku. Erni menerobos masuk sebelum aku sempat membukanya.

“ Nin...tadi ada yang nanyain tuu...” katanya.
“ eh, siapa ? perasaan aku ga ada janji sama seseorang ? “ jawabku acuh. Kelelahan membuatku tak bisa mencerna perkataannya dengan baik.
“ Niiin..... kamu gitu deh.. “ Erni merengut,  lucu seperti boneka.
“ iyaa... tapi siapa ?? “ sahutku. Kali ini aku sudah sadar sepenuhnya dari kantukku.
“ namanya Andri. Ingat ?? Katanya dia menubrukmu di tempat parkir kemarin “ kata Erni. Senyumnya mengisyaratkan sesuatu yang disembunyikannya dariku.
“ lalu ?? “ aku tak tahan lagi. Rasa penasaranku makin memuncak.
“ dia menitip nomor teleponnya padaku. Katanya dia pengin ketemu denganmu... pahaaammm “ kata Erni sambil mentowel pipiku. Sebelum sempat kubalas, Erni sudah menghambur ke luar. Secarik kertas bertuliskan nomor hape tergeletak di meja belajarku.

.......

Sebuah buku yang asing menyelip diantara tumpukan bukuku. Kubolak balik halamannya, tak kutemukan siapa nama pemiliknya.
Saat kutunjukkan buku itu pada Erni, dia menggeleng. Beberapa teman kost ku juga tak ada yang merasa kehilangan buku itu. Lalu milik siapa ?


Aku jadi teringat peristiwa di tempat parkir itu. Kucari cari sobekan kertas yang diberikan Erni kemarin. Syukurlah, kutemukan menyelip diantara buku kuliahku di meja belajar. Kupandangi deretan nomor telepon itu. Haruskah aku meneleponnya duluan ? apa tak jatuh gengsiku nanti ? bagaimana penilaiannya terhadapku nanti kalau kuhubungi dia ? Sederet pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Hape masih kutimang timang, bingung memutuskan.

“ Niiiin “ ... Erni menerobos ke kamarku, membuatku terkejut. Nomor hape yang kupandangi sejak tadi terbang entah kemana.
“ Andri mencarimu tuuh... kayaknya ada yang penting deh. Sana buruaaann “ Erni mendorongku keluar. 

Kulihat Andri duduk manis di ruang tamu. Senyumnya langsung mengembang melihat kedatanganku.
“ ehh, ada apa yaa ? kok, tumben sampai kemari ? “ . terus terang aku gugup sekali. Belum pernah ada seorangpun cowok mengunjungiku di kost.
“ oh ituu.. eh... cuma mau nanya sedikit. Apa bukuku ikut terbawa waktu tubrukan di tempat parkir kemarin ? “ Andri salah tingkah, dan gugup sekali.
“ itu bukumu ya ? pantesan teman se kost tak ada yang merasa kehilangan. Aku juga bingung kenapa bisa terbawa ya ? “ jawabku.

Perbincanganpun mengalir, seolah kami sudah kenal lama sekali.

###

Hari hariku tak lagi kulalui sendirian. Andri menjadi teman setia yang bersedia mengantarku kemana saja. Hubungan kami makin dekat, seakan tak terpisahkan. Setahun kemudian kami resmi pacaran, aku merasa telah menemukan pelabuhan hati.

Andri sangat melindungiku. Dia pulalah yang selalu menemaniku menyelesaikan tugas kuliah, dan menyusun skripsi. Tahun tahun yang berat dan sibuk kami lalui bersama, hingga saat wisuda.
“ Nin, aku pamit pulang ke kampung halaman. Bulan depan aku akan datang dengan orang tuaku untuk melamarmu. Maukah kau menungguku kembali ? “ pertanyaan Andri di sudut balairung membuyarkan senyumku. Terus terang aku sangat khawatir bila dia tak kembali padaku.
“ ayolah Nin, kau tak percaya padaku ? apa kau takut kehilangan aku ? “ seolah bisa membaca hatiku, Andri memelukku erat.

Di bandara kulepas kepergiannya. Akupun kembali berkutat dengan kesendirian. Penantian panjang kuisi dengan sibuk mencari kerja. Tak ada secuilpun khabar kuterima dari Andri. Komunikasi diantara kami putus total.

Tapi aku masih menunggunya, aku masih memegang janji yang diucapkannya saat menjelang pulang dulu.
Andri tak pernah muncul di hadapanku. Hingga akhirnya sebuah telepon dari nomor yang tak kukenal mengagetkanku pagi itu.

“ apakah ini mbak Nin ? “  suara seorang perempuan  menyapaku.
“ maaf, ini siapa ya ? “ jawabku ragu ragu. Sejuta tanda tanya segera memenuhi benakku. Jangan jangan Andri....
“ saya adiknya Andri mbak. Saya mendapatkan nomor hape mbak dari dia. oh ya, hampir lupa, saya Mira mbak “ katanya lagi.

Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku hanya bisa mendengar dan sesekali menggeleng atau mengangguk. Bibirku kelu, tak sepatah katapun mampu kuucapkan. Hanya air mata yang deras mengaliri pipiku. Selanjutnya aku tak ingat apa apa lagi.

####


Hari hari yang berlalu terasa sangat berat buatku. Aku yang terbiasa kemana mana bersama Andri, kini harus membiasakan diri untuk tak tergantung lagi padanya. Yaa, Andri sudah pergi meninggalkanku dua bulan yang lalu. Kecelakaan tragis menimpanya dalam perjalanannya ke bandara saat menuju ke kotaku. Dia ingin memberiku kejutan dengan memboyong ayah ibu dan saudaranya mengunjungiku, sekaligus melamarku. Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

Hanya telepon dan sms Mira yang menghiburku sekarang. Erni sudah bekerja di luar pulau, teman teman kost nya yang lain sudah pulang ke daerah masing masing. Akhirnya kuputuskan untuk menyepi dengan menerima tawaran menjadi pengajar di sebuah sekolah dasar di pelosok kabupaten.

Bulan pertama terasa sangat berat, tetapi tak terasa bulan demi bulan bisa kulalui tanpa hambatan. Anak anak yang ceria membantuku melupakan segala kenangan buruk tentang Andri, dan kesibukanku sebagai pengajar menjadi obat mujarab kesedihanku.

......

Kurebahkan tubuhku yang lelah di kursi tamu tanpa mengganti seragam lebih dulu. Persiapan ujian semester telah menguras tenaga dan pikiranku selama seminggu ini.  Sebuah ketukan di pintu menyadarkanku.
“ mas Andri ? benarkah ini kau mas ?? “ jeritku. Sesosok tubuh yang sangat kukenal berdiri di hadapanku. Andrikah itu ? Sambil menangis aku menghambur ke dalam pelukannya. Lalu berita itu ?? Terus terang aku bingung sekali.

Dia membimbingku ke kursi tamu. Sambil memegangi tanganku, dia bercerita panjang lebar selama perpisahan kami. Aku hanya bisa memandanginya, masih tak percaya bila dia berada di sini, di hadapanku. Aku bahagia sekali. Kuabaikan perasaan aneh yang tiba tiba menyergapku saat melihatnya.
Selesai ujian, aku segera pulang ke kota bersama Andra. Kedua orang tuaku sangat terkejut. Binar bahagia nampak di sinar mata ibuku, yang selama ini menghawatirkan keadaanku yang sendirian.


Kedua keluarga besar telah mendorong kami untuk segera menikah. Sesekali kudapati Andra tengah melamun di sudut teras, seolah ada hal yang disembunyikannya dariku. Tetapi aku tak pernah curiga sedikitpun. Kupikir itu wajar karena kami akan segera menikah.

....

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Dengan jas abu abu, Andra nampak gagah dan mempesona. Senyumnya mengembang ketika melihatku menghampirinya dan bersimpuh di sisinya.
Naib yang akan menikahkan kami, ayah dan para saksi sudah siap. Tak sampai lima menit kemudian aku sudah resmi menjadi istrinya. Kucium punggung tangannya, dan Andra mencium keningku mesra. Perhelatan berlangsung sederhana namun hikmat.

Ruangan depan sudah sepi, para tetamu sudah pulang. Kerabat dan saudara juga telah beranjak meninggalkan rumah kami. tinggallah aku berdua dengan Andra, yang kini telah sah menjadi suamiku.
Aku merasa ada yang aneh dengan gerak geriknya. Entah apa itu. Kurasa dia bukan Andri yang kukenal dulu. Tetapi kupikir karena kami lama terpisahkan maka aku tak terlalu mempermasalahkannya.
Malam berlalu cepat tanpa terasa, Andra tertidur lelap sebelum sempat menyentuhku di malam pertama kami. Aku memakluminya, mungkin karena terlalu lelah setelah pesta itu. Kupandangi wajahnya saat tertidur, sesekali ku elus pipinya. Tak henti hentinya aku bersyukur setelah kulalui penantian yang begitu lama untuk menjadi istrinya.
“ heehh..heeehh... jangan panggil aku Andriii..jangan...jangaaaaannnn “ tiba tiba saja suamiku berteriak teriak dan terbangun dengan keringat bercucuran di dahinya. Rupanya ia mengigau. Kusodorkan segelas air putih, yang segera dihabiskannya dalam sekali tenggak.

“ tidurlah maas, kau masih capek kan ? “ kurebahkan tubuhnya kembali. Diapun segera tertidur pulas.
Makin besarlah rasa penasaranku. Apa arti igauannya tadi ? kenapa dia menolak dipanggil Andri ? jangan jangan......Seribu satu pertanyaan berputar putar di kepalaku. Hingga menjelang fajar aku tak bisa tertidur lelap.

.....

Selesai sarapan dan membereskan kamar, aku mengajaknya berjalan jalan ke taman di seberang rumah. Udara pagi yang sejuk, bunga bunga yang bermekaran, kupu kupu dan burung yang berkejaran  tak mampu mengusir rasa penasaranku tentang kejadian semalam.

“ mas, apakah aku boleh menanyakan sesuatu ? “
“ apa itu ? kelihatannya serius banget ?? “ sahutnya, digenggamnya jemariku. Kehangatan mengalir hingga ke relung hati.
“ apa arti igauan mas semalam. Kenapa mas menolak dipanggil Andri ? “

.......

Tanpa menjawab apapun, Andra mengajakku pulang. Di hadapan ayah dan ibu, juga kedua orangtuanya Andra menceritakan semuanya.
Ternyata Andri meninggal sehari menjelang keberangkatannya untuk melamarku. Sebelum pergi, dia menitipkan sepucuk surat yang berisi kisah percintaannya denganku dan meminta agar Andra mau menggantikannya menjadi suamiku. Kedua orang tuanya menyetujui tindakan ini, dengan harapan agar aku tak terlalu terpukul dan sangat kehilangan.

Rupanya mereka berdua saudara kembar. Itulah kenapa aku tak merasa curiga bila yang datang mengunjungiku bukan Andri.
“ ayah, ibu, aku mohon maaf bila tak mengatakan hal ini sebelum pernikahan. Nin begitu bahagia saat melihatku, dan aku tak tega menyakiti perasaannya. Andri sudah membuatnya tertekan dan menderita, dan aku ingin sekali menghiburnya, menggantikan Andri di hatinya. Maafkan aku ayah, ibu ....” Andra berjongkok di hadapan orang tuaku.

“ Nin masih suci, aku belum menyentuhnya sama sekali meskipun telah resmi menjadi suaminya. Aku tak sampai hati melakukan yang bukan hak ku ...... “ kata kata Andra membuat tangis ibuku makin keras. Aku hanya diam membisu. Pikiranku benar benar kalut, tak bisa mencerna kejadian demi kejadian yang terjadi begitu cepat ini.

.....

Rembugan keluarga berlangsung cepat. Ayah memanggilku ke ruang dalam begitu mereka selesai membahas masalah ini. Orang tua Andra begitu tegang, sementara Andra menunduk, tak berani menatap wajahku.
“ Nin, apakah yang kau rasakan saat ini nak ? “ tanya ibu tersendat.
“ apakah kau masih ingin melanjutkan pernikahan ini ? “ sebelum aku sempat menjawab, ayah sudah memelukku.

Aku menghambur ke kamar, dan menumpahkan tangisku di sana. Ya Allah, apa yang harus kulakukan ? Haruskah aku menerima Andra sebagai pengganti Andri ?

“ maafkan kami nak, kami tak segera memberitahukan kematian Andri padamu. Kami tahu, Andri sangat mencintaimu, sangat ingin menikahimu..... kami juga sangat menyayangimu meskipun belum pernah sekalipun melihatmu. Dari cerita Andri kami tahu betapa berartinya dirimu baginya.... terimalah Andra, anggaplah dia sebagai pengganti Andri yang telah tiada....” mertua perempuanku bersimpuh di sebelah tempat tidurku. Sambil menangis dielusnya rambutku, sorot matanya menyiratkan kedukaan yang dalam.

......

Orang tuaku, mertuaku dan Andra sudah berkumpul di kamarku. Kuhela nafas panjang, seakan ingin kulepaskan beban di pikiranku saat ini. kupandangi wajah lelah mereka satu persatu. Andra masih menunduk, tak berani menatap wajahku. Ibu yang menatap penuh harap. Juga kedua mertuaku, masih menggenggam tanganku.

“ ayah, ibu.... dan mas Andra.... aku mau meneruskan pernikahan ini. aku....aku tak ingin membuat kalian malu karena masalah ini.... aku bisa mengerti alasan kalian.....” terbata bata aku menjawab, disambut tangis haru dan senyum lebar dari orang orang yang kukasihi.

Dua tahun berlalu sejak peristiwa itu. Mas Andra telah membuatku kembali menjadi Nin yang dulu. Kutinggalkan sekolah tempatku mengajar dan pindah mengikuti mas Andra ke kotanya. Farid, buah hati kami telah melengkapi kebahagiaan ini. Tak henti hentinya aku bersyukur atas karunia ini.

---000---




Jakal, 23 April 2012



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu