Kasih Tiada Berpadu

Dipasangnya CD di komputer, dan segera mengalun sebuah lagu lama yang selama ini dicarinya. Lagu yang mengingatkannya pada cinta pertamanya. Yaah, saat cintanya tak mendapatkan restu dari orang tuanya, hanya karena ayah Rizal,  beristri dua.

“ Kulepas kepergianmu tanpa tetesan air mata
Kau kecup mesra jemari tanganku
Selamat tinggal kekasih...............”
( Kasih Tiada Berpadu – Kiki Maria )
---000---
Namaku Sawitri, satu satunya anak perempuan dari empat orang anak bu Sundoro, seorang juragan krupuk di Kampung Baru. Aku tumbuh dalam pengasuhan timpang kedua orang tuaku. Ayahku yang pedagang kain, cenderung membiarkanku tumbuh sesuai keinginanku. Sesekali dibawakannya setumpuk buku cerita yang dibelinya di lapak pedagang buku di sebelah kiosnya di pasar. Ayah sangat tahu kalau aku suka membaca. Hal itu menjadi kegembiraan tersendiri bagiku.

Sementara ibu mendidikku dengan aturan yang sangat ketat menurutku. Mungkin karena aku satu satunya anak perempuan, maka ibu ekstra ketat menjagaku. Tak boleh ini, tak boleh itu, bahkan hingga teman bermainpun aku tak bisa menentukan sendiri. Semua harus sesuai dengan keinginan ibu. Hingga terkadang aku sempat berpikir bahwa ibu tak pernah menghendaki kelahiranku.

.......

Bertahun tahun Sawitri menyimpan kepedihan hatinya ketika percintaan itu akhirnya kandas karena campur tangan ibunya. Tanpa sepengetahuannya, ibunya meminta Rizal menjauhinya. Ayahnya yang pendiam tak banyak berkata kata karena kejadian itu. Sawitri tak pernah tahu, ayahnya menyimpan kesedihannya dengan menyibukkan diri dengan dagangannya.

Tahun tahun yang berat dilalui Sawitri dengan derai air mata.
---000---

Lima tahun kemudian, Sawitri telah bekerja sebagai Manager sebuah bank ternama di kota besar. Hari harinya dilalui dengan kesibukan yang luar biasa padat. Pergi pagi pagi dan pulang ke rumah hampir tengah malam. Semua dijalaninya dengan perasaan hambar karena Sawitri telah menutup hatinya rapat rapat untuk cinta.

Tak pernah dibiarkannya perasaan sedih mendera hatinya. Iapun tak pernah memberikan kesempatan sedikitpun pada beberapa kenalan yang mencoba mendekatinya, meluluhkan kekerasan jiwanya. Bahkan tawaran dari beberapa kerabat dan teman terbaiknya untuk mengenalkannya pada seseorang ditolaknya dengan halus, takut menyakiti perasaan mereka.

Mbok Nah, pembantu setia sejak masa kecilnya, selalu menyambut kepulangannya. Tanpa banyak kata disiapkannya air hangat, baju ganti yang bersih dan menemani majikannya menonton tv hingga tertidur. Selalu begitu setiap hari, dan mbok Nah tak pernah sekalipun menanyakan mengapa majikannya masih senang hidup sendiri.
---000---
Tanpa sengaja dia bertemu dengan Rizal, cinta pertamanya saat kantornya mengadakan launching product di sebuah mall ternama. Dia masih gagah seperti saat perpisahan dulu. Rahang kukuh, mata tajam seperti elang, dan senyumnya masih meluluhkan hati Sawitri.

Mereka hanya bertukar kartu nama, Rizal berjanji akan menghubunginya setelah acara itu selesai. Sawitri hampir melupakan janji itu ketika ada yang mengetuk pintu rumahnya di malam minggu yang cerah itu. Rizal berdiri di hadapannya dengan seikat bunga lily di tangannya. Jantung Sawitri berdegup kencang; antara kaget dan tak percaya bila Rizal masih mengingat bunga kesukaannya.

“ monggo diminum. Ini kuenya dicicipi “ mbok Nah menyajikan minuman hangat dan kue jahe buatan Sawitri tadi siang.
“ kau masih secantik dulu. Hanya.....” Rizal tak melanjutkan ucapannya. Lirikan matanya menggoda Sawitri, yang segera mencubit lengannya dengan gemas.
“ hanya apa ? hayo katakan ..” rajuk Sawitri, cemberut. Duh, inikah bahagia itu ? batinnya.
“ kau makin galak, dan..... adoooww “ Rizal berteriak tertahan ketika Sawitri kembali mendaratkan cubitannya di lengan.

Hari hari Sawitri berubah total. Mobilnya lebih sering nongkrong di garasi. Rizal selalu setia mengantar jemput setiap hari. Mbok Nah merasa gembira, majikannya sudah menjadi ceria dan suka tersenyum sekarang.
---000---
Telepon dari Doni, teman sekantor Rizal mengejutkan Sawitri siang itu. Rencananya Rizal akan menjemputnya untuk makan siang bersama. Bergegas ia menuju rumah sakit, dan didapatinya Rizalnya tengah terbaring dengan beberapa selang yang terhubung dengan monitor. Dokter masih sibuk memeriksa, dan suster mencatat setiap instruksi dengan teliti.

Doni mengajak Sawitri ke luar kamar perawatan. Sambil duduk di kursi beranda, ia menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa Rizal. Rupanya Rizal ingin memberinya kejutan dengan membelikannya sebuah gaun malam yang sudah lama diinginkannya. Sawitri tak mampu berkata apa apa. Pikirannya buntu, lidahnya kelu, hanya air matanya saja yang mengalir deras membasahi pipinya.

Sawitri memutuskan akan merawat dan menemani Rizal hingga sembuh. Setelah mengajukan cuti dari kantornya, kini dia mendampingi laki laki itu selama dirawat di rumah sakit. Diajaknya ngobrol, dibacakannya koran terbaru, dielusnya wajah yang makin tirus itu meskipun Rizal tak bereaksi apapun. Pendarahan di batang otaknya telah membuatnya tak mampu merespon apapun stimulan dari luar dirinya.

Meski ada yang aneh, Rizal selalu meneteskan air mata setiap kali para pembesuk mendoakannya,setiap Sawitri membisikkan perasaan sayangnya. Hal itulah yang membesarkan hati Sawitri, memberikan pengharapan bila Rizalnya akan sembuh kembali.


---000---
Rizal sudah kembali ke rumah. Dokter menvonisnya menderita amnesia akut. Laki laki itu berubah menjadi seperti robot, tak mengenali siapapun, tak mampu mengingat apapun, dan tak bisa berkomunikasi dengan utuh seperti dulu. Hati Sawitri hancur, tetapi tak pernah ditunjukkannya di hadapan Rizal. Hanya mbok Nah yang sering menghiburnya.

“ sabar ya non.... den Rizal pasti akan sembuh. Pelan pelan ingatannya akan pulih kembali.....” sambil menepuk pundak majikannya, seolah menguatkan semangat Sawitri.
“ sampai kapan mbok ? “ keluh Sawitri.
“ memohonlah padaNya. Mintakan kesembuhan den Rizal .... “ sambung mbok Nah. Airmatanya hampir saja tumpah, namun ditahannya. Dia tak ingin membuat majikannya bertambah sedih.

Perlahan ingatan Rizal pulih kembali, meskipun belum sepenuhnya. Dia baru bisa mengingat saat mereka pacaran dulu, bertahun tahun yang lalu. Hal ini telah membuat Sawitri luar biasa bahagia. Kadang kadang Rizal mengajaknya ke butik mencari gaun pengantin yang cocok. Terkadang ingatannya meloncat ke masa dimana mereka harus bertemu secara sembunyi sembunyi karena tentangan ibunya. Tak jarang Rizal menganggap bahwa mereka berdua telah menikah dan hidup bahagia.

Semua dijalani Sawitri dengan tabah, dan sabar. Bisa bersama sama dengan Rizal setiap hari membuatnya bahagia.


---000---
Mereka berdua akhirnya menikah. Rizal sudah kembali bekerja seperti biasa. Kini Sawitri pindah ke rumah Rizal bersama mbok Nah, pembantu setianya. Hari hari dilaluinya dengan kebahagiaan yang terasa sempurna. Impiannya bisa bersanding dengan lelaki itu kini terwujud.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Rizal mengalami kecelakaan saat pulang dari kantor. Benturan keras di kepalanya menyebabkan pembuluh darah di otaknya pecah, sehingga tubuh bagian kanannya mengalami kelumpuhan.

Sekali lagi kesetiaan Sawitri diuji. Kali ini Rizal harus dirawat di ICU selama beberapa minggu. Selama itu pula Rizal tak pernah membuka matanya. Berbagai macam selang tertancap di tubuhnya. Selang infus, kateter, oksigen dan entah apa lagi, Sawitri tak ingin tahu. Digenggamnya tangan suaminya saat dibacakannya doa. Sesekali, jemari itu bergerak gerak memberikan reaksi. Tetapi selebihnya hanya diam.

.....

Dokter memvonis Rizal tak bisa sembuh total. Kerusakan di otaknya telah membuatnya tak bisa berbicara dan lumpuh sebelah. Atas ijin dokter pulalah Sawitri membawanya pulang ke rumah.
Beberapa bulan menjadi perawat pribadi, membuat Sawitri kebal dengan bau obat dan bau khas rumah sakit. Tak disadarinya bila sudah dua bulan ini dia tak mendapatkan haid. Pusing dan mual yang belakangan ini sering dialaminya setiap pagi hanya dianggapnya sebagai gejala masuk angin biasa.

“ aduuh noonn....kenapa ini ? “ tanya mbok Nah. Dibimbingnya Sawitri ke sofa, disekanya keringat yang berbutir butir di dahinya.
“ aku pusing mbok.... mual ...” sahut Sawitri lemah. Mukanya pucat pasi.
“ kupanggilkan dokter Nisa ya non....sebentar..” mbok Nah berlalu ke meja telepon.

.....

“ selamat ya Wit....kandunganmu sudah jalan tiga bulan...” sumringah suara dokter Nisa. Dijabatnya tangan Sawitri yang melongo tak percaya.
“ apaa ?? aku hamil dok ?? “ tanya Sawitri. Hatinya senang luar biasa.
Mbok Nah mengusap air matanya. Teringat kembali pada majikan sepuhnya yang sudah tiada. Ah, betapa bahagianya mereka bila masih hidup, gumamnya.
---000---
Sawitri senang memandangi Rizal yang tengah memangku Farid di atas kursi rodanya. Betapa wajah keduanya mirip satu sama lain. Celoteh Farid selalu menerbitkan senyum di wajah kurus suaminya. Diam diam, Sawitri akan menghapus air matanya, sebelum diketahui Rizal.

Ujian bagi Sawitri belumlah berakhir. Saat Farid berusia sembilan bulan, kondisi kesehatan Rizal memburuk. Dia kembali dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh saat hendak ke kamar mandi. Pendarahan dalam menyebabkan Rizal koma. Kali ini Tuhan berkehendak lain. Rizal meninggal setelah dirawat beberapa hari.
Sambil memeluk Farid, Sawitri duduk di samping jenazah suaminya yang terbujur kaku di ruang tengah. 

Sayup sayup terdengar lagu Kasih Tiada Berpadu – Kiki Maria yang diputarnya. Tak dipedulikannya tatapan iba dari kerabatnya yang menyembunyikan air matanya mendengar lagu itu. Yaah, itu lagu kenangan mereka berdua. Lagu yang mereka dengarkan berdua di hari terakhir sebelum ibu Sawitri memutuskan hubungan mereka, bertahun tahun lalu.

........

Kini Farid telah menjelma menjadi pria dewasa. Setiap orang yang melihatnya akan mengatakan betapa miripnya ia dengan almarhum ayahnya. Sosok yang tak pernah bisa diingatnya dengan jelas, tetapi selalu ada dalam cerita yang disampaikan ibunya.

Mereka duduk berdua di beranda. Lagu kesayangan itu mengalun lembut, membuat angan Sawitri mengembara ke mana mana. Farid hanya terdiam memandangi ibunya di kursi goyang, dengan foto ayahnya di pelukannya.


“ Kulepas kepergianmu tanpa tetesan air mata
Kau kecup mesra jemari tanganku
Selamat tinggal kekasih...........”

Diam diam Farid menghapus air matanya. Perpisahan kali ini tak ada kecupan mesra di jemari tangan ibunya.


 ---000---



Jakal, 23 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu