Lingerie Merah Jambu

**waktu pun lambat bergulir merantai langkah, 
dalam perjalanan kita merangkai berjuta cerita 
yang menjadikannya dilemma**


Dipandanginya sebaris kalimat yang tertulis di halaman tengah buku hariannya. Meskipun telah lusuh, sampulnya pudar warnanya dan robek di sudutnya, Marina masih menyimpannya dengan rapi. Membaca kalimat itu, ingatannya melayang pada peristiwa setahun lalu, saat ia masih menjalin hubungan dengan Bram.

Pagi ini cuaca mendung, awan  yang berarak membentuk gumpalan hitam yang bergulung gulung seperti cendawan raksasa. Siap memuntahkan segala isi yang dikandungnya menjadi tangis langit yang mengirimkan bergalon galon air ke permukaan bumi.

Marina menghela napas perlahan. Pulpen di tangannya masih tergenggam erat, sementara pikirannya buntu. Sejak habis Subuh tadi ia ingin sekali menulis, namun tak ada satu kalimatpun tergoreskan di buku hariannya.

“  mas Bram, begitu bencikah kau pada keputusanku, hingga tak pernah lagi membalas semua pesanku ?? “ tanya hatinya. Hatinya perih seakan tersayat sembilu. Kenangan setahun lalu membayang di pelupuk matanya. Saat diucapkannya kata perpisahan itu, Bram terlihat begitu kecewa. Tak ada tanda tanda bila Marina menginginkan hal itu terjadi. Selama ini hubungan mereka baik baik saja, tak ada pertengkaran ataupun perselisihan di antara mereka.

**************

Sejak diangkat menjadi Kepala Divisi Evaluasi dan Monitoring, Bram menjadi sangat sibuk. Hari harinya lebih banyak dihabiskan di kantor, rapat ke beberapa instansi terkait atau bahkan melakukan kunjungan ke beberapa daerah. Saat itulah Marina merasa bahwa kehadirannya menjadi nomor yang kesekian dalam kehidupan Bram.

Beberapa kali pesan pendeknya tak mendapat respons dari Bram. Telepon pun menjadi sesuatu yang sangat jarang dilakukannya akhir akhir ini.
Bram terbiasa menelepon saat terjebak macet di jalan, atau saat sedang menunggu rapat yang molor dari jadwal.  Sesekali dia juga menelepon dengan alasan ingin mendengar tawa Marina. Suatu alasan yang dicari cari, tentu saja.
Marina selalu merasa tersanjung karenanya. Dia merasa menjadi seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan Bram. 

Tetapi laki laki itu memang telah jauh berubah, Marina dapat merasakannya meskipun tak bisa mengatakannya.

**************

Marina melangkah memasuki kamar, di belakangnya Bram menutupkan pintu perlahan. Setelah meletakkan tas tangannya ke atas meja, dia menghambur ke pelukan laki laki itu. Dilepaskannya gunungan rindu yang sekian lama tersimpan rapat dalam angannya. Dicarinya mata elang laki laki itu, dilihatnya sorot penuh cinta di sana, meskipun Bram tak pernah sekalipun mengatakannya.
Marina memejamkan matanya. Dinikmatinya semua kemesraan itu dengan hati mekar, berbunga bunga. Hingga akhirnya …….

“  mas, kenapa selalu begini ?? tidak adakah hal lain yang bisa kita lakukan bila bersama ?? “ keluh Marina. Ditolaknya tangan Bram yang tengah menariknya kembali ke pelukannya.
“  kenapa ? kau sudah bosan ? atau…. Sudah ada yang lain ? “ selidik Bram. Wajahnya memerah, seperti menahan marah ataupun cemburu.
“  tidak mas, tidak. Tetapi kali ini aku ingin berbincang serius mengenai masa depan….” Keluh Marina. Diabaikannya wajah marah Bram, dia beringsut menjauh.
Mereka duduk bersender tembok, bersisian. Bram meraih jemari Marina, menggenggamnya erat. Tak ada sepatah katapun diucapkannya. Sesekali terdengar helaan napasnya, seolah beban berat menggelayuti pikirannya.

Marina diam menunggu. Dibiarkannya Bram terdiam, diapun sibuk dengan pikirannya sendiri . Sampai malam memisahkan perjumpaan mereka, Marina tak menemukan kata yang tepat untuk mengakhiri hubungan mereka. Meski jauh di lubuk hatinya ia mulai merancang kalimat yang akan dikirimkannya nanti pada Bram.

Dikecupnya pipi Bram, dipeluknya tubuh lelaki itu erat erat. Hati kecilnya membisikkan bila inilah pelukan terakhirnya. Sambil menahan air matanya, Marina meraih tas tangannya dan segera berlalu dari hadapan Bram.

***************

Beberapa kali pesan singkat Bram mampir di ponsel Marina, juga beberapa panggilan telepon. Semua diacuhkannya. Marina ingin menata dan berdamai dengan perasaannya sendiri. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya pada kesibukannya sendiri.
Suatu sore, ditulisnya surat perpisahan untuk laki laki itu.  Setelah berulang ulang dibacanya dengan teliti, lalu dikirimkannya via email ke Bram. Marina menunggu hingga beberapa hari hingga mendapatkan balasan. Dia terhenyak. Hanya sepotong kalimat balasan dari Bram, yang tak menyiratkan apapun perasaan laki laki itu.

Marina menghela nafas. Hampir di luar sadarnya air mata telah mengaliri pipinya yang pucat. Seminggu ini dia terbaring sakit karena maagnya kambuh.

 “ tangiskupun tak akan pernah kau pahami, 
begitupun rasa kehilangan yang kusembunyikan 
dari pandanganmu

Tangan Marina terhenti di udara. Sebait puisi yang tadi memenuhi benaknya tak bisa tuntas ia tuliskan di buku hariannya. Kini bercak tetes air mata mulai mengaburkan tulisan di lembar lusuh itu. Ia tak berusaha menghapusnya. Biarkan saja bercak itu menyimpan cerita usang tentang cintanya.

************

Mbok Rah mengulurkan telepon genggamnya saat Marina pulang dari berbelanja. Wajahnya nampak sedikit khawatir dan takut. Sambil melangkah masuk, Marina melihat ada beberapa panggilan telepon dan pesan yang masuk.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang asing, ada juga dari Tari, sahabatnya di kantor. Pesan pendek dari Iban, adik bungsunya dan satu pesan pendek dari nomor asing. Dilihatnya sekilas, dahinya berkerut. Marina mengingat ingat nomor siapakah itu.

Tak sabar dibukanya pesan itu. “ Nana, ini Bram. Ponselku hilang saat aku kecelakaan tahun lalu. Sekarang aku ada di kotamu. Maukah kau menemuiku sebentar saja ? “ …. Hampir saja tumpah air matanya membaca pesan itu. Bram selalu memanggilnya Nana, sampai saat ini pun dia masih mengingatnya.
“  beritahu alamatnya dimana, nanti aku akan mengunjungi mas “ … Marina menekan tombol send, kemudian ia mulai bersiap siap.
“  mbok, aku pergi ke luar sebentar. Tidak usah memasak, mungkin aku akan makan di luar. Mbok masak buat mbok sendiri aja ya ….”

Tanpa menunggu jawaban, Marina membuka pintu pagar dan menghentikan taksi yang melintas. Sebuah seringai aneh tersungging di sudut bibirnya.
“  pak, nanti mampir sebentar di toko dekat lampu merah depan itu ya…” pintanya pada sopir taksi.


Setelah membayar ongkos taksi, Marina melangkah anggun menuju kamar Bram di lantai tujuh. Dia menunggu laki laki itu menutup pintu, dan kemudian segera menghambur ke pelukannya.
Bram terkejut. Mereka segera tenggelam dalam kemesraan yang sempat terputus berbulan bulan lamanya. Ada seringai aneh di wajah Marina yang luput dari perhatian Bram. Tindakan perempuan itu juga sangat lain dari Marina setahun yang lalu. Bram tak menyadarinya sama sekali.

Puas melepas kangen, mereka berbaring bersisian. Kepala Marina menyandar di dada bidang Bram. laki laki itu bercerita panjang lebar tentang perpisahan mereka. Marina mengedarkan pandangan ke kopor Bram yang telah rapi.

“  aku mandi dulu yaa….” Bisik Bram lembut. Marina hanya mengangguk. Dibiarkannya laki laki itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Sesaat kemudian Marina bangkit. Sambil bersijingkat ia menarik keluar sebuah bungkusan mungil dari tas tangannya.
Perlahan lahan dia membuka kopor. Diselipkannya lingerie merah jambu yang tadi dibelinya, diantara pakaian kotor Bram. Tak lupa ditinggalkannya bercak lipstick di hem biru muda kesukaan Bram kemudian kopor itu ditutupnya perlahan. Marina kemudian menyusul Bram ke kamar mandi.


**************

Marina membiarkan Bram mencium pipinya dan memeluknya erat. Perlakuan Bram masih sama seperti dulu bila hendak berpisah. Laki laki itu belum menyadari keganjilan Marina.
“  hati hati di jalan ya mas, salam untuk yang di sebelah duduk nanti di pesawat “ lembut Marina mencium tangan Bram dan segera berlalu. Senyuman aneh bertengger di bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang akan menuntaskan dendamnya.

Hari itu berjalan sangat lambat. Berkali kali Marina melirik ponselnya. Tak ada satu pemberitahuan pun yang masuk hingga ia tertidur kelelahan.

Mbok Rah membangunkannya pagi pagi sekali. Di hadapannya terhidang secangkir teh hangat dan pisang goreng yang masih panas mengepul ngepul. Diraihnya remote tv, dinyalakannya dalam sekali sentuh.

 Sebuah berita kriminal menarik perhatiannya. “  seorang laki laki berusia tiga puluhan tahun ditemukan tewas di kamar tidurnya dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya…..” demikian suara sang pembaca berita.

Marina terduduk tiba tiba. Dia seperti mengenali rumah yang ada di layar televisi itu. Bukankah itu rumah mas Bram ?  gumamnya lirih.

“ isterinya menemukan bukti perselingkuhan suaminya sepulang dari luar kota. Lingerie merah jambu dan hem bernoda lipstick. Wanita itu kalap, dan dengan menggunakan sebilah pisau dapur, dia menghabisi nyawa suaminya….”  Marina tak dapat lagi mendengar dengan jelas siaran tv itu.

**************


Marina berdiri diam di samping jendela. 
Senyum yang aneh tersungging di bibirnya. 
Bukan senyum sebenarnya, tetapi seringai aneh. 
Ia sama sekali tak menangisi kematian Bram.  


---000---


Jakal, 31 Maret 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu