Makan Sini Saja
Selepas menyelesaikan pendidikannya di sebuah SMA di pelosok kabupaten, Andi berkesempatan melanjutkan kuliah ke kota. Untuk menghemat waktu dan mengirit biaya, dia memutuskan untuk indekost di dekat kampusnya. Ada banyak pemondokan tersebar di sana; dari yang paling murah dengan kondisi kamar yang seadanya, hanya tersedia sebuah kasur busa tipis, sebuah meja belajar dan lemari pakaian yang berbahan baku kayu sengon, maupun yang kelas lux dengan fasilitas serba ada, ac, kulkas mini, berikut kamar mandi dalam layaknya sebuah apartemen.
Mengingat beban orang tuanya yang tidak kecil karena masih harus membiayai dua orang adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD, Andi tak berani menyewa kamar kost berharga mahal. Dia memilih sebuah pemondokan sederhana di tengah kampung yang terletak di belakang kampusnya. Sebuah rumah yang sejuk, dengan banyak pohon buah buahan yang menaungi seantero halaman, dengan induk semang yang sangat ramah, peduli dan ngemong kepada penghuni kost di rumahnya.
Seperti biasa bila hari Sabtu tiba, Andi Iwan dan Tejo asyik ngobrol di depan teras. Sebagai mahasiswa baru, ketiganya belum punya pacar. Jadi mereka belum punya kewajiban untuk wakuncar ‘ waktu kunjung pacar’. Sementara teman teman kost yang lain sudah sibuk berbenah sejak pagi. Ada yang menyeterika bajunya hingga licin, ada yang menyikat dan menyemir sepatunya hingga mengkilat, ada pula yang sibuk mematut matut baju dan setelan celana yang akan dipakai malam nanti.
Jadilah mereka hanya bicara ngalor ngidul ditemani pisang dan tempe goreng yang tadi sempat dihidangkan oleh mbok Nah, pembantu di rumah induk semang.
Menjelang jam empat sore, Iwan menyuruh Tejo dan Andi mencari makan. Maklum sebagai anak kost jadwal makan mereka tergantung pada isyarat yang diberikan oleh perut. Terkadang mereka hanya makan pagi, sementara makan siang dan makan malam digabung menjadi makan sore. Salah satu alasannya adalah penghematan biaya hidup di kota yang makin hari makin tak terjangkau oleh kantong mereka yang pas pasan.
Secara kebetulan, ibu kost meminta mereka untuk mampir ke toko besi yang terletak di sudut gang, untuk membelikan setengah kilogram paku reng. Rupanya ada beberapa bangku yang perlu diperbaiki hingga ibu kost membutuhkan paku.
Selesai membeli makan malam atau makan sore tepatnya, Tejo dan Andi membelokkan sepeda motornya ke toko besi yang dimaksud ibu kost. Setelah mengutarakan maksudnya membeli paku dan membayarnya sekalian, Tejo bergurau dengan Andi, sambil menunggu pesanannya diambilkan oleh si pelayan.
Entah disengaja atau karena latah, saat si pelayan berkata : “ ini dibungkus atau ? …..” pada seorang pelanggan yang berdiri di sebelah Tejo, dengan santai dan penuh percaya diri dia menjawab :
“ Makan sini ajah “…………….
Kontan semua orang yang kebetulan berada di toko besi itu tertawa terbahak bahak.
Tejo yang belum menyadari bila tadi keceplosan bicara menoleh bingung pada si pelayan. Dia tersinggung karena ditertawakan oleh orang orang di situ.
Tetapi setelah si pelayan menyerahkan pesanannya dan Andi menyeretnya agar segera berlalu dari toko besi itu, barulah dia sadar. Dengan muka memerah menahan malu, dia segera ngeloyor pergi sambil ngedumel tak karuan.
Sampai di pemondokan, tak ayal seluruh teman teman kostnya pun terbahak bahak ketika Andi mengulangi kekonyolan Tejo di toko besi tadi.
Mungkin karena kebiasaan membeli makan di warung, jawaban Tejo pun spontan seperti sedang membeli makan seperti biasa.
Dua puluh tahun kemudian, saat reuni akbar diselenggarakan di Auditorium kampus mereka yang megah, Tejo, Andi dan Iwan bertemu lagi. Kenangan demi kenangan, kekonyolan dan cerita lucu kembali menjadi perbincangan hangat di antara mereka. Sebuah pertemuan yang makin mempererat persahabatan diantara mereka bertiga.
Lagi lagi cerita tentang makan paku menjadi bahan guyonan yang tak habis habisnya, membuat mereka tertawa geli saking lucunya.
Jakal, 26 Maret 2012
--000--
*kampus karangmalang, dua puluh tahun lalu*
Komentar
Posting Komentar