Pembunuh Berdarah Dingin [2]

Tadi siang Badrun sempat mengintip ke dalam kamar. Sebilah belati tergeletak di meja samping tempat tidur. Berkilat kilat tertimpa lampu. Senyum Badrun mengembang karenanya.
Malam ini dia menyelinap ke kamar. Belati yang dilihatnya tadi siang menarik minatnya. Pelan dia meraih belati itu dan menyelipkannya di pinggangnya.
Perlahan Badrun beralih ke kamar sebelah. Dengan mantap dihujamkannya belati itu tepat di tengah jantung. Lalu dikoyakkannya hingga tercerai berai.
“ hhhmmm ...ssrrrpppp....enaaakkk “, lelehan coklat melumuri jemarinya. Mulutnya tak berhenti mengunyah kue kesukaannya.


---000---


Jakal, 9 april 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu