Sembilu Kehilangan [1]
terbaring tanpa kata
dalam ruang hampa, tirai berjuntai
bulumata pun berjalin enggan terpisah
desah nafas satu satu
berpadu detak, penggerak organ yang lelah
jangan pergi, jangan abai pada jeritku
temani aku habiskan tangis ini
seirama tetes di julur selang bening lenganmu
inikah perpisahan yang kau janjikan, dulu?
dalam ruang hampa, tirai berjuntai
bulumata pun berjalin enggan terpisah
desah nafas satu satu
berpadu detak, penggerak organ yang lelah
jangan pergi, jangan abai pada jeritku
temani aku habiskan tangis ini
seirama tetes di julur selang bening lenganmu
inikah perpisahan yang kau janjikan, dulu?
kali ini bukan lagi rintih nestapa jadi pengiring
namun telah menjelma jerit
mungkin teriak
kar'na isi benak tlah pepat oleh isak
begitu tajamnya sembilu kehilangan
sama bengisnya torehan kesedihan
keranjang duka lara terseok limbung
hanya bongkah batu
dalam pahat tak rapi
sebut namamu
namun telah menjelma jerit
mungkin teriak
kar'na isi benak tlah pepat oleh isak
begitu tajamnya sembilu kehilangan
sama bengisnya torehan kesedihan
keranjang duka lara terseok limbung
hanya bongkah batu
dalam pahat tak rapi
sebut namamu
terseok di jajaran tebing, membatu
di sela rimbun pokok kemuning, kemboja dan melati gambir
sesekali aroma kenanga mengulik cuping
aura magis segra tercipta, meremang di kuduk
helai mawar yang kutabur masih segar
kuncup kanthil masih menghijau, tanah pun merah
pucuk rerumputan mulai menyembul
diantara batu nisan
simpuhku, memohon ampun
untuk mu, yang tinggalkanku
Jakal, 9 April 2012
di sela rimbun pokok kemuning, kemboja dan melati gambir
sesekali aroma kenanga mengulik cuping
aura magis segra tercipta, meremang di kuduk
helai mawar yang kutabur masih segar
kuncup kanthil masih menghijau, tanah pun merah
pucuk rerumputan mulai menyembul
diantara batu nisan
simpuhku, memohon ampun
untuk mu, yang tinggalkanku
Jakal, 9 April 2012
Komentar
Posting Komentar