Sembilu Kehilangan [2]

angin masih setia menelusup diantara ranting
berdaun rimbun tertunduk dalam angguk, mengayun
hamburkan dedaunan menguning berserak

jajaran nisan masih saja diam tak berkata kata
sesekali melintas penjaga taman, dalam senyum tanpa suara
liukan asap dupa dan kemenyan menjangkau sudut cungkup
di temaram senja, bayang bayang cemara memagut pilu

hampir malam, langit tlah gelap
pintu hampir tertutup
penjaga bersiap, gemerincing kunci jadi tanda

ku harus pergi, meski enggan
pembaringanmu  temani memajang malam
separuh hidupku tertinggal sudah

nda, ini aku
dan setangkup mawar yg kujalin beserta rindu
saat malam membilang kerlip bintang di senyum rembulan

nda, ini aku
cerana kusam yg usang masih berhias kelu
anggur yg kau tuang tak ku cecap hingga waktumu
terampas malaikat, menjemputmu

harus kemana kutuang serpih kenangan tentang kelu
kar'na pembaringanmu pisahkanku ?

angin masih terbangkan daun cemara luruh
menghunjam tanah basah, selimut malam mu
nda, nyenyakkah tidur abadi mu
berkalungkan untai doa dan tetes cinta dariku ?

pusara itu masih membisu
dalam jajaran putik semboja beku, melatipun layu
pokok kenanga di ujung , terduduk kelu

nda, tak perlu risau
kar'na semua enggan tuk sakiti mu
hanya elus sayang, dan titik air mata
basahi ukir namamu

kelopak mawar dan putik melati kan temanimu



Jakal, 10 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu