Sepotong Kue Dodi dan Dini

Adalah Dodi dan Dini, dua sahabat karib sejak mereka masih bocah ingusan. Dimana ada Dodi, disitu pula Dini ada. Seiring sejalan, nempel terus seperti amplop dan perangko.

Seperti halnya di siang terik itu, keduanya sedang bermain main di halaman rumah pak RW. Mereka senang karena halaman rumah itu dipenuhi pepohonan berdaun rimbun. Meskipun panas, mereka tak takut kepanasan, dan juga udara sejuk menyenangkan. Terkadang muncul bu RW yang memberi mereka buah buahan hasil kebun, atau terkadang sepotong kue atau bahkan es krim kesukaan mereke. Maklum, meskipun sudah menikah berpuluh tahun, tetapi pak RW belum dikaruniai seorangpun anak, sehingga bisa dimaklumi bila bu RW sangat suka anak anak.

Saat bu RW muncul dari pintu samping rumah membawa piring berisi roti, Dodi dan Dini segera menghambur ke arahnya. Dengan sorot mata penuh harap, mereka menanti tangan bu RW terulur memberikan roti itu untuk mereka berdua. Mata yang bening, khas mata anak anak yang belum terkontaminasi keinginan dan hasrat. Ibu RW sangat menyukai sorot mata itu.

Diulurkannya roti itu, lalu ditinggalkannya mereka setelah mereka berdua mengucap terima kasih.Dodi dan Dini duduk di dahan pohon yang rendah, sibuk berunding untuk membagi roti itu sama besar.
Agar adil, Dodi yang memang lebih tua setahun dibanding Dini, yang membagi roti itu untuk mereka berdua. Diparuhnya roti itu, dan dipegangnya di telapak tangan kiri dan kanan. Ketika dirasanya roti di tangan kirinya lebih besar daripada yang di tangan kanannya, digigitnya ujung roti itu sedikit.
“ kok digigit ? “ Dini memprotes.
Dodi tak menghiraukan protes Dini. Ia memandangi kedua potong roti yang masih berada di kedua telapak tangannya. Ternyata roti yang di tangan kanan sekarang nampak lebih besar dibandingkan roti di tangan kiri. Dodi kembali menggigit ujung roti itu.
Dini mendelik. Ia belum paham betul kenapa Dodi melakukan hal itu lagi.
“ Dooonn, kenapa digigit lagi ? “
“ kan biar sama besar bagiannya “ jawab Doni, dengan senyum dikulum.


---000---


Begitu berulang ulang, bergantian Dodi menggigit roti di tangan kiri dan kanannya hingga akhirnya roti itu tinggal sepotong kecil, yang siap siap dimasukkannya ke mulutnya.
Kesal menunggu, secepat kilat Dini menggigit roti itu bersama ujung jari Doni yang menjerit kesakitan. Dini tertawa tawa sambil berlari menjauh. Rupanya Dodi bermaksud mengakali Dini, agar mendapat bagian roti yang lebih besar dibanding Dini. Akibatnya ???

---000---



Jakal, 26 Maret 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu