Serial Rangkat: Koalisi oh Koalisi

Lama tak muncul di desa, tiba tiba saja bu Enggar nongol di lapak kripik jeng Sekar. Desa sedang ramai kasak kusuk, siapa berteman siapa, siapa lawannya siapa... Mas Kades, Mas RT, Kang Edy.... apalagi Om Ga, mas Repott....

Gadis dan janda juga tak kalah seru mencari teman koalisi. Wah, sepertinya di desa sudah terkena virus politik yang mulai mewabah. Bagaimana tidak, semua sibuk kasak kusuk mencari pendukung dan teman koalisi. Aah, seperti di Dewan yang terhormat saja..seruuuu...

Karena warga baru, bu Enggar tak bisa dengan segera memilih untuk berkoalisi atau berperang bersama siapa. Terus terang sekarang ini bund Eng, demikian biasa disapa, bingung luar biasa. Sudah seharian ini marahin layar warna warni alias monitor, tapi tetap saja tak ada satu hurufpun nongol di sana.

“ bund Eng, kenapa sii ? “ tiba tiba saja Ari Ryan sudah nongol di depan kios. Jeng Sekar yang sedang sibuk dengan timbangan, menoleh sekilas.
“ iya tu Ari... bundamu sedang suntuk. Dari kemarin manyuuuun terus ...” kata jeng Sekar.
“ bund ga apa apa kok dhimas “ jawabku. Hadeeehh, bohong banget. Bukannya stress mikirin ‘kompie’nya yang harus operasi besar ?
“ sabar ya bund, besok besok pasti segera rampung kok... “ hibur jeng Sekar. Sungguh, yang ini menyejukkan hati.
“ mbak Sekar, aku antar bund Eng pulang dulu yaa...” Ari Ryan membereskan lappy jeng Sekar, menaruhnya di atas rak kemudian berlalu. Tinggallah jeng Sekar bengong, bingung ditinggal sendirian.

......

Sepulang dari rumah bund Eng di ujung desa, Ari Ryan kembali ke lapak jeng Sekar. Sudah ada mas Hans, mas Ibay, jeng Hanna, jeng Asih, jeng Aciek... Ternyata kepergiannya tadi telah menimbulkan kehebohan yang sulit dimengerti.. Masing masing sibuk menerka, ada apakah antara bund Eng dengan Ari Ryan.... ada yang ketipu rupanya.

Heboh soal bund Eng dan Ari Ryan tak mendinginkan suasana panas di desa. Rupanya perang ff rangkat masih terus berlangsung meskipun di luaran adem ayem saja. Orang orang yang berkunjung tak merasakan aura perang di sana. Ini karena warga desa sangat pandai menyimpan perseteruan, menjaganya agar hanya yang bersangkutan saja yang merasakannya.

Tinggallah bu Enggar makin bingung dan juga sedih. Bingung menentukan pilihan koalisi, atau sedih karena harus berperang dengan warga. Padahal, saat pindah dulu, dia mengangankan desa yang tenteram saling asih asah dan asuh....

Haduuuhhh, mimpi tinggallah ilusii....



Jakal, 23 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serial Rangkat: Kado Buat Bunda

Sepotong Ilusi Tersisa

Terpenjara Rindu